Sabtu, Februari 20, 2010

-sangdewi-: Antasari Minta Banding

-sangdewi-: Antasari Minta Banding

Antasari Minta Banding

Jakarta, 19 Februari 2010

Sidang vonis Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan berencana Direktur Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen menyatakan dirinya bersalah dan dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Kecewa terhadap putusan hakim, Antasari pun minta banding dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/2).

Pengacara Antasari, Hotma Sitompul, menyatakan kekecewaannya, “Kami kecewa dengan putusan hakim karena dalam persidangan semua yang dituduhkan tidak terbukti. Tidak ada dua alat bukti yang kuat. Sms yang dituduhkan juga tidak terbukti. Jadi tidak ada alasan Antasari bersalah. Tapi kenapa bisa dikatakan bersalah, biarkan masyarakat yang menilai”, jelasnya.

Tidak puas dengan vonis hakim, tim pengacara Antasari pun mengajukan banding. “Kami akan banding”, tambah Hotma.

Sedangkan istri Antasari, Ida Laksmiwati hanya bisa menerima apapun keputusan hakim. “Biarkan nanti pihak pengacaranya yang mengurus”, tuturnya.

Namun keputusan hakim juga mengecewakan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). Antasari lolos dari hukuman mati yang sebelumnya dituntut oleh JPU.

Menurut Sirus Sinaga, berdasarkan pasal 55 jo 340 KUHP, Antasari harus dihukum mati karena turut serta dalam tindak pidana. Karenanya, pengajuan banding oleh pihak Antasari pun dijawab pikir-pikir oleh JPU.

Dalam ruang sidang yang berbeda, Wiliardi Wizard yang juga turut serta melakukan tindak pidana yang dituduhkan, divonis 12 tahun penjara. Seperti Antasari, ia juga mengajukan banding. (wie)

Selasa, Januari 05, 2010

George : Lakukan Falsifikasi, Bukan Verifikasi


Jakarta, 5 Januari 2009

“Silakan lakukan falsifikasi jangan memaksa saya untuk melakukan verifikasi. Bukan tugas saya untuk mengungkap lebih detail.” Demikian ungkapan George Junus Aditjondro dalam diskusi pra launching buku Membongkar Gurita Cikeas, Dibalik Skandal Bank Century, di Doekoen CafĂ©, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (30/12).

Ungkapan tersebut sekaligus menjawab keraguan tentang fakta dibalik buku yang kini tengah menjadi kontroversi di masyarakat. Berkali-kali George menegaskan, “Buku ini bukan isu, bukan gosip, bukan intelijen.”

Dalam bukunya, George menilai adanya sejumlah dana melalui Bank Century yang mengalir ke beberapa yayasan milik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diantaranya Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (YKDK), dan Yayasan Mutu Manikam Nusantara.

Bukan hanya itu, suntikan dana juga sempat mengalir ke harian Jurnal Nasional (Jurnas) yang disinyalir menjadi corong politik partai Demokrat serta adanya separoh dana Public Service Obligation (PSO) LKBN Antara yang mengalir untuk Bravo Media Center yang juga tim kampanye SBY-Boediono.

Tak hanya menjadi buku yang ramai dicari saat ini, buku tersebut bahkan membuat sejumlah pihak merasa tertuduh termasuk Presiden SBY.
Salah satu diantaranya yang juga hadir dalam acara tersebut adalah Ramadhan Pohan selaku pemimpin redaksi harian Jurnal Nasional (Jurnas).

Sempat terjadi ketegangan ketika Ramadhan menyatakan bahwa buku yang ditulis George hanyalah sebuah khayalan. Hal tersebut memancing kemarahan George hingga ia melayangkan buku ke muka Ramadhan. Ia pun diusir dari ruang diskusi.

Sementara itu, dalam waktu bersamaan di luar terjadi demo dukung SBY dalam rangka menanggapi buku yang ditulis George tersebut.

Buku setebal 183 halaman ini rencananya akan direvisi dan akan dikeluarkan edisi baru. “Bisa saja halamannya bertambah tapi yang pasti tidak berkurang,” kata George. (wie)

Jumat, Oktober 02, 2009




Bekal yang Tak Pasti
Oleh : Dewi Rachmat Kusuma
-------------------------------------

Tempat tinggalnya hanya cukup untuk melindunginya dari sengat matahari dan derasnya hujan. Atapnya terbuat dari seng, dindingnya disekat menggunakan papan dan lantainya hanya semen kasar yang ditutup pakai karpet plastik tipis. Ukurannya pun hanya sekotak ruangan multifungsi tanpa sekat.

Tempat tidur dari bambu untuk dua cucunya, Riri Rahmadani (6), saat ini sekolah di TK dan Ridho Anriyamsyah (8), duduk di bangku kelas 2 SD dan sang nenek, Suminar (53) tidur di lantai.

Di samping tempat tidur, nyempil dapur dan tempat makan, jika ada tamu, ya semuanya ngumpul jadi satu, di ruangan yang sudah dua tahun ditempatinya itu. Panasnya Pedongkelan, Jakarta Timur itulah mereka bertahan hidup.

Sejak enam tahun silam, saat sang ibu dari anak-anak meninggal dan ayahnya memilih untuk meninggalkan mereka karena tak kuat menanggung beban, memaksa Suminar untuk mengasuh dua bocah yang kini mulai bertanya kemana orang tua mereka.

Setiap harinya, Suminar mengais rezeki dari sisa-sisa botol minuman untuk kemudian dijual ke agen barang-barang bekas. “yah, sehari paling dapet tiga kilo paling sedikit, sekilonya cuma empat ribu, jadi ya cukup buat makan sama jajan anak-anak saja”, ucapnya.

Tak seperti yang lain yang terus mengeluh meratapi susahnya hidup. Bagi Suminar, anak-anak harus tetap sekolah, walaupun sekolah gratis yang fasilitasnya sangat jauh dari sekolah-sekolah pada umumnya.
Tak ada harapan muluk dari nenek itu. Dia hanya ingin kedua cucunya itu kelak tak seperti dirinya. “saya cuma pengen cucu-cucu saya pinter dan bisa menguasai pelajaran, kan ntarnya enak,” harapnya lirih.

Tak jarang Riri dan Ridho mengikuti jejak sang nenek memungut gelas-gelas dan botol-botol yang berserakan. “Lumayan, nambah-nambah penghasilan”, katanya.

“Sisa uangnya kan bisa buat nyicil bayar kontrakan”, tandasnya. “Kalo seratus lima puluh ribu dibayar langsung kan berat”, tambahnya lagi.

Namun, ada tawa menggelitik ketika si bocah ditanya soal cita-cita. “Aku pengen jadi Kamtib biar bisa ngebelain omah”, celetuk Riri polos.

Bagi dua bocah itu, pengalaman buruk tentang pemulung, pengamen jalanan, pedagang asongan dan kamtib masih mengiang dalam ingatannya ketika beberapa waktu silam, ayahnya ditahan karena berdagang di jalan yang tidak semestinya.

“Bekal saya hanya mereka, ya meskipun itu belum pasti, kaya apa nantinya, Tuhan pasti masih kasihan ngeliat kita susah”, pinta sang nenek berkaca-kaca.

-----0-----
Eksistensi Film Sebagai Produk Budaya
Oleh : Dewi Rachmat Kusuma

Pernah menonton Laskar Pelangi? Denias? atau Ayat-Ayat Cinta? atau mungkin Ketika Cinta Bertasbih yang baru-baru ini diputar di bioskop? Film-film tersebut bisa dikatakan deretan film Indonesia yang mencoba menyuguhkan mutu substansi sebuah karya audio visual yang tak latah dengan sejumlah judul film yang mengumbar muatan kekerasan, seks, horor, dan romantisme percintaan. Judul-judul film tersebut menunjukkan bahwa perfilman nasional Indonesia saat ini terus merangkak untuk membuktikan eksistensinya sebagai salah satu produk budaya yang memiliki identitas. Bisa diartikan, perfilman Indonesia saat ini telah menempati posisi tertentu dalam masyarakat Indonesia. Tak heran, film dijadikan salah satu media untuk menyampaikan informasi yang bersifat mendidik, tidak semata-mata untuk hiburan.
Disamping sebagai media komunikasi, film merupakan karya cipta manusia yang berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, salah satunya pendidikan. Melalui film, bisa tergambar ciri budaya masyarakat yang bersangkutan, karena melalui film masyarakat dapat melihat secara nyata apa yang terjadi di tengah masyarakat tertentu.
Film adalah sebuah proses budaya suatu masyarakat yang disajikan dalam bentuk gambar hidup—audio visual—. Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa masyarakat cukup menyadari tentang keberadaan film sebagai bukti eksistensi sebuah budaya. Sama seperti buku yang memiliki masa dan pembacanya, maka film pun memiliki jaman dan penontonnya. Saat inilah, masanya perfilman Indonesia bangkit dari keterpurukan, terlepas dari kualitas sebuah film, apapun jenis dan bentuknya, film tetaplah bagian dari budaya sebuah bangsa.
Apapun jenis atau temanya, film selalu memunculkan pesan moral kepada masyarakat yang dapat diserap dengan mudah karena film menyajikan pesan tersebut secara nyata. Gambar hidup yang ditampilkan di film memberi dampak yang berbeda dari untaian kata-kata dalam sebuah buku.
Contoh-contoh film yang telah disebutkan di atas misalnya, tak banyak sineas berusaha tetap menunjukkan ciri budaya bangsanya dengan menyajikan film bernuansa pendidikan, seperti impian seorang anak desa yang ingin bersekolah tinggi, atau kerja keras seorang mahasiswa pribumi di negeri orang demi mencapai cita-cita. Tema-tema yang diangkat identik dengan budaya dan persoalan-persoalan khas masyarakat di negara tersebut. Maka, film memang sesuatu yang khas, unik, dan nyata. Hal tersebut dibuktikan dengan terpilihnya film Laskar Pelangi sebagai pemenang di ajang Indonesia Movie Award (IMA) 2009 beberapa waktu lalu. Ini menunjukkan film sebagai media, mampu mentransfer ideologi dan budaya mereka kepada masyarakat dunia, tanpa harus membuat penontonnya bermimpi.
Namun ketika masyarakat terus-menerus disuguhkan tontonan yang memuat unsur-unsur kekerasan, seks, horor, drama percintaan yang berlebihan oleh para sineas demi orientasinya terhadap pasar, maka tak menutup kemungkinan, semuanya akan terekam menjadi sebuah hal yang wajar jika terjadi dalam kehidupan nyata.
Untuk itu, tak lain untuk menjaga eksistensi tersebut, harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah sebagai penentu kebijakan yang relevan dan luwes mengenai perfilman, dan pekerja seni yang menjalankan profesinya dengan merujuk pada fungsi film sebagai media pendidikan bagi masyarakat, serta peran masyarakat dengan mengembangkan sikap-sikap kritis dalam memberikan penilaian terhadap film, serta menjadikan film sebagai media pembelajaran.



Sang Penyelamat di Palang Pintu Kereta
Oleh : Dewi Rachmat Kusuma
------------------------------------


Maman (54), tubuh renta-nya tak menyurutkan niatnya untuk selalu membantu orang lain. Dengan berbekal sebuah peluit dan lambaian tangan serta mata renta yang jeli, ia berusaha untuk menertibkan lalu lintas yang semrawut disepanjang perlintasan kereta api di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tempat ini biasa disebut perempatan Volvo.
Lokasi ini tak jauh dari stasiun Pasar Minggu, perempatan yang menghubungkan arah Pasar Minggu menuju Kalibata. Tempatnya yang sempit, hanya beberapa meter saja, dan hanya pas untuk menutup palang pintu kereta dari dua arah yang berlawanan.
Jika biasanya perlintasan kereta cukup dengan dua arah yang ditutup palang pintu, berbeda dengan tempat ini. Ada satu jalur lagi yang tidak tertutup palang pintu. Hingga posisinya, satu jalur dari arah Pasar Minggu menuju Kalibata dan dua jalur dari arah Kalibata menuju Pasar Minggu.
Dua jalur itu terbelah dengan berdirinya sebuah warung nasi yang biasa kita sebut warteg dan bengkel motor, sehingga membuat pengendara tak melihat datangnya kereta dari arah Pasar Minggu.
Keadaan tersebut yang membuat Maman tergerak hatinya untuk ikut menertibkan para pengendara yang semrawut itu. “Polisi pun kewalahan menertibkannya”, ungkap Maman.
Setiap harinya, Maman yang memiliki empat orang anak hanya mengandalkan kerelaan dari para pengendara untuk sedikit menyisihkan recehannya. “Saya tidak ingin meminta-minta, saya hanya menerima keihklasan dari mereka yang ingin memberi, tidak pun tak jadi masalah asal saya bisa membantu menyelamatkan mereka”, ucapnya.
Menjadi calo pembuatan SIM atau KTP pun, ia lakoni demi menutupi kebutuhan hidupnya. “Selama ini, cukuplah hanya untuk makan keluarga saja”, ucapnya lirih.
Pekerjaannya sebagai pengatur lalu lintas di palang pintu kereta menuntutnya untuk selalu hati-hati. Lengah berarti maut. Hal itu yang selalu Maman perhatikan betul. “Kesabaran dan kesadaran pengendara pun ikut andil dalam menertibkan lalu lintas ini”, jelasnya.
Lampu putih menyala berarti kereta akan segera datang. Suara peluit pun mengencang dan lambaian tangan siap memberi isyarat bahwa tak boleh ada pengendara yang lewat.
Pernah suatu ketika, “Saat itu hujan deras, ada seorang ibu separuh baya menggunakan sepeda motor, menerobos perlintasan kereta api saat bunyi sirine terdengar, di tengah rel, sepeda motornya macet karena memang rel akan mengunci otomatis ketika kereta api datang, ibu tersebut terjatuh beserta sepeda motor dan kentang bawaannya, melihat kenekatan ibu tersebut, akhinya saya langsung menarik paksa ibu itu dan mengamankan motornya, karena si ibu nekat menyelamatkan kentang bawaannya. Tersadar kalau nyawanya selamat dari maut, ibu itupun langsung memeluk saya dan mengucap syukur”, kenang Maman.
Tak hanya itu, lagi-lagi ketidaksabaran pengendara yang membuatnya harus beradu otot demi menyelamatkan nyawa orang-orang yang melintasi perlintasan itu.
“Pernah ada satu mobil menerobos perlintasan rel ketika sirine berbunyi. Peristiwanya pun sama. Mobil berhenti di tengah rel. Saat itu di dalamnya terdapat empat orang, tak pikir panjang, saya lari, mengetuk pintu mobil dan berteriak meminta seluruh orang dalam mobil itu keluar, namun si ibu, salah satu penumpangnya masih enggan meninggalkan mobil karena memikirkan nasib si mobil, kemudian saya paksa keluar, alhasil semua penumpang selamat namun mobil terseret beberapa meter dan hancur”.
Bagi Maman, nyawa dan keselamatan pengendara di atas segala-galanya. Tak sedikit orang-orang tersebut terlepas dari mautnya, walaupun sang pemilik maut hanyalah satu, sang pencipta. Namun hidup adalah ikhtiar. Dari pengabdian Maman itu, tak berlebihan rasanya jika kita menyebutnya sebagai sang penyelamat di palang pintu kereta. Peran kecil namun bermanfat besar bagi orang lain, yang justru terabaikan dari pandangan kita.

-----0-----

Pahlawan itu Bernama Master
Oleh : Dewi Rachmat Kusuma
-------------------------------------

Nurrohim dan Purwandri Ono sepakat mendirikan sekolah untuk anak-anak jalanan. Tak ada manusia yang menginginkan terlahir menjadi gelandangan. Begitu juga dengan anak-anak di sekolah ini. Yayasan Bina Insan Mandiri ini telah menelurkan sekitar seribu-an murid sejak tahun 2004 dengan 50 tenaga pengajar relawan.
Dari TK, SD, SMP, hingga SMA, semua kalangan pinggiran itu belajar disini. Bahkan, ada program satu tahun kelas akademisi untuk mereka yang memiliki akademis bagus dan akan dilanjutkan ke perguruan tinggi. Semua pendidikan itu gratis yang nyata bukan mitos.
Ketika itu, ungkap Andre (42), sapaan akrab Purwandri Ono, aktivitas saya yang berjualan handphone di terminal Depok selalu mampir ke masjid saat istirahat. Selain sholat, tak hanya untuk merebahkan tubuh karena letih, saya pun memperhatikan lalu lalang sekumpulan anak yang asyik bersenda gurau dengan masing-masing alat musik seadanya. Seperti gitar kecil, kecrekan dan berbagai jenis alat musik jalanan.
Seolah tak ada tuntutan menjadi lebih baik, anak-anak yang masih usia sekolah tersebut terus melakukan aksinya di jalanan setiap hari. Awalnya, saya mencoba dari sekitar sepuluh orang mengajak mereka belajar di emperan masjid dan menyelipkan tanya, masih adakah rasa ingin belajar dalam diri mereka? Namun, tak hanya mereka, waktu bergulir banyak yang berminat bahkan yang bukan usia sekolah lagi.
Mencetak generasi mandiri, cerdas, berakhlak baik dan mencetak pribadi yang kreatif merupakan tujuan dari didirikannya sekolah ini.
Berdasar pada niat yang baik dan berbagi rasa serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan intinya menganggap ini kewajiban, bukan beban, membuat Andre tergugah untuk terus memikirkan nasib anak-anak jalanan ini.
Bermodal warung Tegal (warteg) milik Rohim dan berkembangnya usaha Andre menjadi konsultan bangunan dan supplier peralatan kantor menjadi titik terang menggeliatnya sekolah ini. Tak menampik, sumbangan dari donator pun sangat membantu berkembangnya sekolah ini.
Dari buka counter handphone hingga bisa mendirikan yayasan adalah hal yang paling indah buat Andre.
“Saya punya kebahagiaan, saat saya bisa membahagiakan orang lain. Pada saat saya bisa membuat orang senang, dan bisa membuat mereka mandiri, itu sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang”, ungkapnya yakin.
“Semuanya akan tertebus ketika melihat mereka bisa bersaing dengan dunia luar dengan bekal yang mereka miliki yaitu kepintaran, keterampilan dan akhlak yang baik. Sehingga berguna bagi dirinya minimal dan bisa bermanfat juga bagi orang-orang disekitarnya,” tambahnya penuh harap.
Sama halnya dengan Andre, Mustamiin (26), salah satu tenaga relawan juga turut bahagia dengan adanya sekolah ini. “Ketika pola pikir berubah, cara pandang, kepercayaan diri muncul, itu yang mahal,” ungkapnya.
Memulai dengan “Kau adalah temanku“ itu membuat pengajaran lebih diterima mereka. “Lebih kepada pendekatan personal itu penting, tanpa menggurui,” ucapnya terharu.
Tak hanya sekolah, usaha sablon milik Mustamiin juga salah satu ladang kerja ketika mereka lulus nanti. Tak lain, “Ini adalah kebermaknaan hidup, membuat semuanya bisa berjalan hingga sekarang,”ucapnya.
Sekolah yang terletak di belakang terminal Depok ini, memulai sekolahnya di masjid sehingga kemudian dikenal dengan nama sekolah Master (Masjid Terminal). Namanya juga belakang terminal, tak heran jika penghuninya pun berasal dari kalangan anak jalanan, pengamen, preman, bahkan pembantu rumah tangga dan office boy pun ikut meramaikan sekolah ini.
Masjid terminal atau Master merupakan pahlawan bagi mereka. Mereka tak lagi dikucilkan dalam masyarakat, malah mereka patut bangga dengan sebutan gelandangan yang mampu bersaing dengan dunia luar. Misalnya saja, M. Ayatullah Komeni (20) lulusan Yayasan Bina Insan Mandiri ini lolos dalam UMPTN sastra Jawa Universitas Indonesia tahun lalu. Sama halnya dengan dua temannya yang juga lolos UMPTN. Ini sebuah kebanggaan!.
“Tak hanya keakraban guru dengan murid, disini ajang pendidikan yang memupuk rasa cinta dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama”, ucap sang juara. Tak ada imbalan untuk mereka, hanya kewajiban moral untuk mengajar disini sebagai ungkapan rasa kepedulian terhadap sesama. Ini patut dikembangkan!

-----0-----



Nafasku adalah Dakwah
Oleh : Dewi Rachmat Kusuma
------------------------------------

Separuh hidupnya, ia abdikan untuk mengasuh pesantren sederhana yang dibina bersama istri tercintanya Hj. Saodah. Bersama delapan anaknya yang kini hanya tersisa enam orang, K.H. Ridwanullah Muin (62) tak pernah lelah untuk berdakwah.
Sejak usia muda, sekitar usia anak SMP, rutinitas mengajar tak pernah lepas dari hidupnya. Abah Ridwan, panggilan akrab sang kiyai, biasa melakukan aktivitas seperti mengajar anak-anak madrasah diniyah pada pagi hari, ibu-ibu majelis ta’lim disiang hari, dan puluhan anak pesantren dimalam hari. “Mungkin saya ditakdirkan untuk ngajar”, tutur sang kiyai.
Tempat yang mewah bukan jaminan menjadikan seseorang bisa belajar dengan baik. Seperti halnya Pondok Pesantren Mambaul Hikam ini, terletak di pinggiran pantura Jawa Barat, Desa Patrol, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu ini terbilang cukup untuk aktivitas belajar-mengajar Al-Quran dan kitab kuning. Bangunannya hanya terdiri dari dua pondok kecil untuk penginapan 50 santri putra dan putri, satu aula untuk mengaji, lapangan basket, dan masing-masing kamar mandi serta kantin.
Mengawali usahanya berkeliling menggunakan sepeda menjual sandal jepit, membuka usaha sembako, rumah makan, bertani, hingga usaha sablon, ia lakoni hingga sampai pada tujuan hidupnya berdakwah di jalan Allah SWT. “Namun, semua usaha itu tak ada yang abadi seperti pekerjaan saya mengajar ini”, jelasnya.
Berbekal tanah warisan orang tua seluas setengah hektar yang ia bagi menjadi tiga tempat, untuk tempat tinggal sederhananya, madrasah, dan pondok pesantren. Untuk makan sehari-harinya bersama keluarga dan santri, ia hanya mengandalkan hasil sewa dari sawah pemberian orang tuanya.
“Sejak masa bujangan dulu, saya selalu diikuti anak-anak yang ingin sekali mengaji. Mereka ingin diajar ngaji. Terus-menerus akhirnya saya terpikir untuk rutin mengajar mereka dengan rumah kecil saya sebagai tempatnya”, Cerita sang kiyai.
Dengan tempat awal, rumahnya yang hanya 7 x 6 meter saja, akhirnya sang kiyai kebingungan setiap kali ia menerima tamu. “Kalau anak-anak semua pada ngaji, kalau ada tamu, tamunya ga bisa masuk, sebaliknya kalau tamu masuk, anak-anak yang ngaji ga bisa masuk”.
Akhirnya saya berpikir, dengan sisa tanah yang saya punya dan bantuan dari masyarakat setempat berdirilah pesantren ini. Sejak didirikan 1990 silam, pesantren ini lambat laun berkembang dengan mendirikan TK Al-Quran kemudian menyusul MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) dan pada tahun 2002 didirikanlah Madrasah Tsanawiyah gratis untuk mereka yang tidak mampu.
Setahun terakhir, pesantren ini mulai mengepakkan sayapnya di udara dengan diluncurkannya radio dakwah bernama Shoutun Nida. Walaupun jarak siarnya hanya beberapa tetangga desa saja. Tak aneh, jika penceramah yang didatangkan untuk mengisi siaran di radio tersebut pun didatangkan secara sukarela dengan tujuan dakwah.
Abah Ridwan dengan latar belakang 12 tahun mendalami ilmu agama di beberapa pondok pesantren seperti Kempek di Cirebon, Poso, Lirboyo di Kediri ini kerap tak menyangka perjalanan hidupnya hingga mencapai keadaan sekarang.
“Saya sadar bahwa ini pemberian Allah yang harus saya syukuri Jangankan orang lain, diri saya saja kaget, kok saya bisa haji, dari mana saya dapet uang, dari mana datangnya? Saya yakin bahwa ini pemberian Allah, dipikir secara logika tidak masuk akal”.
Tak jarang, Abah Ridwan mendapat kesulitan dalam mengurus pesantren yang dinilainya masih sangat memprihatinkan ini. Kendala dana, tenaga pengajar, dan dukungan dari masyarakat pun menjadi beberapa dari alasan yang membuat pesantren ini merayap perlahan sebelum menuju puncaknya.
Beberapa kali pesantren ini nyaris tak berpenghuni, ditambah ketika sang kiyai beberapa kali pula diuji dengan sakit stroke. Namun, atas izin dari sang Kholik, pesantren ini kembali bersuara.
Tujuan hidup saya tak lain adalah memberi manfaat untuk orang lain. Salah satu caranya dengan berdakwah. Tergerak atas perintah Allah dan Rasul bahwasannya setiap kita umat Islam berkewajiban untuk menyampaikan amanat ajaran Allah kepada mereka umumnya semua manusia, khususnya kaum muslim.
Salah satu manfaatnya, “Banyak dari mendengarkan radio kita, alhamdulillah dulunya ga ibadah, setelah mendengar radio tersebut jadi ibadah, dulu ga berjilbab, sekarang berjilbab. Banyak Allah memberi hidayah kepada pendengar-pendengar kita”, ucap syukur sang kiyai.
Tak ada harapan untuk seorang senja seperti saya yaitu memohon kepada Allah SWT, pesantren saya khususnya bisa maju, bisa menyuarakan Islam sesuai dengan ridho Allah, bisa dipimpin anak ketururunan saya untuk bersama-sama belajar di pesantren ini.



-----0-----






Dari Emperan Hingga Peraduan
Oleh : Dewi Rachmat Kusuma
-------------------------------------

Malam itu, ada belasan anak jalanan tidur di emperan rumah ibu. Mereka korban banjir saat banjir besar di daerah Galur 6 Februari 1995 silam. Setelah diusir beberapa kali, sekumpulan anak itu tetap saja enggan beralih dari tempatnya.
Tak tega, akhirnya ibu Pandoyo pun memberi mereka makan setiap harinya. Setelah beberapa hari, keberadaan anak-anak itu pun diketahui ketua RT setempat hingga memaksa ibu Pandoyo untuk membubarkannya karena meresahkan masyarakat, katanya. Kenang anak sulung dari almarhum ibu Pandoyo itu.
Cerita itulah yang menggariskan sejarah adanya penampungan anak-anak jalanan, gelandangan, anak yatim, pengamen bahkan preman.
Sepeninggal ibu Pandoyo, tanggungjawab pun diserahkan kepada anak sulungnya, Alexander J. Suwardi. Profesinya sebagai notaris ia tanggalkan demi mewujudkan impian ibundanya, mengurus anak-anak yang seharusnya bukan menjadi tanggungannya.
Tak jarang, Suwardi merogoh kocek untuk menghidupi mereka hingga berhasil menyekolahkan anak-anak asuhnya. Bahkan sampai ke perguruan tinggi.
Dari tempat penampungan inilah, Suwardi mencoba untuk tidak hidup egois. Kepuasan batin ketika melihat anak-anak yang tadinya liar menjadi baik.
“Walaupun segala-galanya butuh uang tapi uang bukan segala-galanya. Kepuasan batin adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan materi”, ucapnya tegas.
Griya Asih yang terletak dipinggiran Jakarta Pusat, Cempaka Putih Barat, Mardani tepatnya, memiliki 56 penghuni dengan latar belakang yang berbeda. Tempatnya sederhana, cukup untuk menampung anak-anak yang kehilangan hak mereka. Sebuah kontrakan yang jauh dari gemerlap mewahnya ibukota Jakarta, namun nyaman untuk ditinggali.
Tak ada niat lain dari penampungan anak-anak itu, alasannya simpel, ia ingin melindungi dan memberi pengakuan tentang keberadaan mereka.
Seperti kebanyakan anak yang lain, mereka pun memiliki hak yang sama. “Dengan adanya rumah tinggal ini saya memiliki harapan agar yang tadinya mereka gelandangan menjadi stay di rumah, dan layaknya anak yang lain, tidak dikucilkan dalam masyarakat, tidak dibuang di masyarakat dan mereka merasa di”orang”kan,” ucap Suwardi.
Namun, kerap kali saya dan pengasuh yang lainnya kewalahan mengurusi mereka, karena dasarnya –maaf— liar, jadi kita berusaha menanamkan nilai-nilai hidup, kami sekolahkan ilmu terapan seperti SMIP atau sekolah perhotelan, sehingga mereka bisa berguna di masyarakat nantinya.
Walaupun donator tetap belum ada, namun untuk biaya sehari-hari dan sekolah anak-anak biasanya ada saja orang yang mau mengulurkan tangannya. Pernah dari Dinas Sosial datang meninjau namun belum sampai memberi bantuan secara konkrit.
“Tak ada yang menandingi rasa bahagia saya ketika melihat anak-anak sukses kelak”. Seperti halnya Herlan, sekarang sudah menjadi kepala salah satu divisi di hotel Akasia, Jakarta dan ada juga yang dulunya tukang tawuran bisa dikatakan preman, sekarang menjadi petani ikan di Jatiluhur.
Dengan cita-cita mencerdaskan anak bangsa, Suwardi berharap ingin memiliki rumah sendiri agar bisa menampung anak-anak dengan tanpa beban. Hingga tak ada lagi cerita anak-anak tinggal di emperan.

-----0-----

Kamis, Januari 29, 2009

Seminar All About Indonesia Movie

PRESS RELEASE

Jakarta, 30 Desember 2008

Seminar All About Indonesia Movie

Diskusi : Film dan Sensor “Kritisi Perfilman Indonesia” : Buka Pandangan Mengenai Perfilman Indonesia Pasca Putusan UU Perfilman

Setelah beberapa kali mengalami kendala dengan berganti-ganti tema, akhirnya seminar All About Indonesia Movie dengan tema diskusi Film dan Sensor “Kritisi Perfilman Indonesia” pun berhasil diselenggarakan di ruang 46 kampus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, pada 30 Desember 2008. Acara tersebut menghadirkan dua narasumber dari Masyarakat Film Indonesia (MFI), yaitu : Tito Imanda (Anggota MFI), dan Dyah Aryani P.,SH, MH (Lawyer/Konsultan Hukum MFI). Acara tersebut terselenggara atas kerjasama Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Kajian Radio, Televisi, dan Film (UKM-FKRTF) IISIP Jakarta, Seventeen, dan CitaCinta.

Acara yang membahas mengenai pasca putusan UU Perfilman oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dan dimenangkan oleh lembaga Sensor Film (LSF) atas MFI ini digelar dengan tujuan mengajak mahasiswa untuk tidak hanya sekadar menjadi penikmat film saja tetapi dapat mengkritisi film yang kita tonton. Selain itu, diharapkan dengan adanya acara ini dapat membuka pandangan mengenai kontroversi yang sempat menegangkan antara dua kubu, yaitu LSF dan MFI.

Pihak yang mendukung penghilangan sensor (MFI) berargumen bahwa sensor tidak berpihak kepada kebebasan berekspresi, perlindungan konsumen, serta menunjukkan nilai-nilai budaya patriarkal yang membuat masyarakat melihat moral secara sempit.

Pihak yang mendukung keberadaan pasal-pasal sensor (LSF) berulang-ulang menyatakan bahwa sensor merupakan prasyarat bagi perlindungan moral masyarakat, terutama untuk anggota-anggota masyarakat yang belum matang cara berpikirnya dari kebebasan yang tidak terbatas. Pihak yang mendukung gugatan ke Mahkamah Konstitusi ini pun dituding sebagai pihak yang tidak bermoral dan hanya peduli pada kebebasan berekspresi tanpa menawarkan pertanggung-jawaban kerusakan moral yang mereka hasilkan.

Diskusi tersebut disambut meriah oleh para peserta dengan sesi tanya jawab. Tak hanya mahasiswa dari kampus IISIP Jakarta yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Mahasiswa dari kampus lain pun tak ketinggalan, antara lain mahasiswa dari Universitas Jayabaya dan lain-lain.

Bagi ketua pelaksana, Dewi Rachmat Kusuma, acara tersebut bisa dikatakan sukses karena hampir setengah peserta hadir dari target yang diinginkan meskipun pada hari itu sempat berbarengan dengan acara-acara lain di kampus. Acara ditutup dengan menyerahkan plakat kepada sejumlah pembicara dan moderator. (wie)

Sabtu, Januari 17, 2009

Anak-Anak Warnai Aksi Solidaritas Untuk Palestina

Jakarta, 15 Januari 2009

Aksi damai untuk rakyat Palestina kembali digelar. Lebih dari 500 ribu kader beserta simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Jabodetabek dan Jawa Barat memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), Minggu (11/01). Anak-anak pun ikut mewarnai aksi yang mengecam kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina.

Aksi tersebut juga didukung organisasi massa lainnya seperti dari Dewan Pemuda Gereja Indonesia dan Ikatan Masyarakat Tionghoa. Aksi yang bertemakan “Save Palestine, With Your Blood Your Money”, digelar pukul 08.00 WIB. Bahkan banyak kader PKS yang membawa anak-anaknya yang masih balita. Aksi ini diwarnai pula dengan spanduk-spanduk, dan ikat kepala, antara lain bertuliskan "Save Palestine".

Selain itu, massa PKS melakukan happening art sebagai gambaran atas perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel. Hal tersebut ditunjukkan dengan menerobos camp Israel serta membakar bendera Israel, kemudian menginjak-injak bendera orang Yahudi tersebut. Mereka juga membawa rudal raksasa sebagai simbol kemarahan rakyat Palestina terhadap Israel.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan Ketua Komite Nasional untuk Rakyat Palestina Muqoddam Cholil. Dalam orasinya, Hidayat Nur Wahid yang juga mantan presiden PKS ini menyerukan agar pemerintah Indonesia terus meminta Dewan Keamanan PBB dan Mahkamah Internasional untuk menekan Israel menghentikan serangannya ke Palestina.

Tak hanya umat Islam, umat agama lain pun ikut mengecam dan mengutuk agresi Israel ini. Mereka meminta Pemerintah Indonesia untuk lebih aktif dalam melakukan upaya-upaya diplomasi untuk menghentikan kebrutalan Israel di Palestina.

Selain menggelar aksi, acara tersebut bertujuan menggalang dana kemanusiaan untuk rakyat Palestina. Sejumlah relawan disebar disepanjang jalan yang dilalui massa untuk menghimpun dana dari para demonstran.

Aksi damai ini juga melakukan long march dari gerbang barat Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Aksi tersebut berlangsung tertib meskipun sempat membuat macet jalan di sekitar kawasan tersebut. Usai melakukan aksi, massa PKS berputar kembali menuju lapangan Monas. (wie)

Sabtu, Januari 03, 2009

HAPPY NEW YEAR 2009

Cempaka Putih Barat, 1 Januari 2009

Pukul 00.11 WIB

KIAMAT ATAU TAHUN BARU???

Pukul 00.00 WIB, dini hari dengan kaget ku terbangun!

Sebelumnya, pukul 22.00 WIB, karena lelah, beberapa hari berturut-turut tenaga dan waktu diforsir, akhirnya ku putuskan untuk tidur, yang sebenarnya seperti yang biasa dilakukan anak muda atau orang-orang yang terbiasa merayakan pergantian tahun, tak sempurna sepertinya jika malam pergantian tahun, yang biasa di elu-elu kan sebagian orang yang merayakannya, hanya dilewatkan dengan diam di rumah dan tidur!Aaahhh….rasanya kurang seru, katanya!
Tapi, itu memang sebuah pilihan, merayakan atau diam di rumah?

Malam itu, kebetulan seorang temanku memutuskan untuk menginap di rumahku, dari pada bengong sendirian, mendingan malam tahun baru, nonton TV bareng di rumahku, katanya.

“Tolong bangunin gw, pas jam 12 malam nanti ya…,” pesanku saat itu. Pesanku untuk membangunkan tepat di malam pergantian tahun, bukan untuk mengikuti perayaan malam tahun baru, tapi tak lain, aku penasaran dengan cerita The Davinci Code pada novel yang pernah kubaca dengan film yang diputar, mana yang lebih seru? (karena pas pemutaran film The Davinci Code di bioskop, aku belum sempat menontonnya, hehehe…)

Keadaan begitu ramai sekali, suasana gelap, orang-orang berteriak, entah meneriakkan apa, suara gemuruh yang begitu hebat, dan letusan-letusan yang begitu dahsyat, serta perasaan gelisah yang mencekam, ikut menambah perasaan takut kala itu, aku pun bingung, ini apa? Namun setelah beberapa saat, hitungan detik, orang-orang meneriakkan Kiamat! Kiamat! Kiamat!

Seketika itu juga ku langsung terbangun!

Ku lari keluar kamar langsung menuju balkon, menatap jagat yang kurasakan tadi! memastikan bahwa yang aku alami tadi hanya mimpi.

Akhirnya….alhamdulillah! keramaian tadi, suara gemuruh dan letusan yang begitu dahsyat ternyata perayaan malam tahun baru! Syukurlah!

Kutatapi langit yang dihiasi warna-warni kembang api, percikan-percikan api yang menambah kemilau gelapnya langit malam, seakan mengobati rasa takut yang sempat menghampiriku tadi.

Ya Allah, seandainya mimpi tadi itu adalah benar, aku tak tahu harus berbuat apa???

Aku belum siap!!!

Beberapa menit, kumenikmati indahnya langit malam…

Betapa indah dan meriahnya malam ini, andai saja pergantian tahun baru hijriyah diekspresikan seperti meriahnya malam ini??? Namun dengan perwujudan yang lain, pasti akan lebih indah

Tapi yang pasti, hari ini menjadi tolak awal untuk menjadi lebih baik lagi dengan perwujudan yang lebih nyata…

Met Tahun Baru Hijriyah dan Masehi

Me,

-sangdewi-

Selasa, Desember 09, 2008

Andrea Hirata : Maryamah Karpov Seperti Laskar Pelangi

Jakarta, 1 Desember 2008

“Menulis Maryamah Karpov seperti pertama kali saya menulis Laskar Pelangi, semuanya begitu exited, saya kembali merasakan bagaimana susahnya menulis sebuah karya tanpa tahu sastra sebelumnya”. Demikian penuturan Andrea Hirata, penulis novel bestseller Laskar Pelangi dalam konferensi pers di MP Bookpoint, Jl. Puri Mutiara Raya No.72, Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (28/11).

Andrea juga menjelaskan, dalam Maryamah Karpov ini, semua pertanyaan dan rasa penasaran akan terjawab disini dan sekaligus menjadi kisah akhir yang menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi. “Karya-karya ini, akan saya persembahkan untuk dua keponakanku dan ibunda tercinta,” tambahnya.

Pada acara tersebut, tampil juga Iman Sholeh, seniman asal Bandung, pemimpin Center of Cultural Ledeng, yang juga dosen penyutradaraan dan pemeranan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), yang membacakan puisi dari penggalan naskan Maryamah Karpov.

Novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi, Maryamah Karpov setebal 504 halaman ini mulai beredar sejak 28 November 2008. (wie)