<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911</id><updated>2011-07-30T09:30:33.584-07:00</updated><title type='text'>-sangdewi-</title><subtitle type='html'>Sedikit Gambaran Perjalanan Hidup</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-5651948605456084584</id><published>2010-02-20T01:29:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T01:29:07.213-08:00</updated><title type='text'>-sangdewi-: Antasari Minta Banding</title><content type='html'>&lt;a href="http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2010/02/antasari-minta-banding.html"&gt;-sangdewi-: Antasari Minta Banding&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-5651948605456084584?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2010/02/antasari-minta-banding.html' title='-sangdewi-: Antasari Minta Banding'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/5651948605456084584/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=5651948605456084584' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/5651948605456084584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/5651948605456084584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2010/02/sangdewi-antasari-minta-banding.html' title='-sangdewi-: Antasari Minta Banding'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-4948236561308546857</id><published>2010-02-20T01:12:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T01:24:54.948-08:00</updated><title type='text'>Antasari Minta Banding</title><content type='html'>Jakarta, 19 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sidang vonis Antasari Azhar dalam kasus pembunuhan berencana Direktur Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen menyatakan dirinya bersalah dan dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Kecewa terhadap putusan hakim, Antasari pun minta banding dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Pengacara Antasari, Hotma Sitompul, menyatakan kekecewaannya, “Kami kecewa dengan putusan hakim karena dalam persidangan semua yang dituduhkan tidak terbukti. Tidak ada dua alat bukti yang kuat. Sms yang dituduhkan juga tidak terbukti. Jadi tidak ada alasan Antasari bersalah. Tapi kenapa bisa dikatakan bersalah, biarkan masyarakat yang menilai”, jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Tidak puas dengan vonis hakim, tim pengacara Antasari pun mengajukan banding. “Kami akan banding”, tambah Hotma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Sedangkan istri Antasari, Ida Laksmiwati hanya bisa menerima apapun keputusan hakim. “Biarkan nanti pihak pengacaranya yang mengurus”, tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Namun keputusan hakim juga mengecewakan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). Antasari lolos dari hukuman mati yang sebelumnya dituntut oleh JPU. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Menurut  Sirus Sinaga, berdasarkan pasal 55 jo 340 KUHP, Antasari harus dihukum mati karena turut serta dalam tindak pidana. Karenanya, pengajuan banding oleh pihak Antasari pun dijawab pikir-pikir oleh JPU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Dalam ruang sidang yang berbeda, Wiliardi Wizard yang juga turut serta melakukan tindak pidana yang dituduhkan, divonis 12 tahun penjara. Seperti Antasari, ia juga mengajukan banding. (wie)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-4948236561308546857?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/4948236561308546857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=4948236561308546857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/4948236561308546857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/4948236561308546857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2010/02/antasari-minta-banding.html' title='Antasari Minta Banding'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-7546249884159811234</id><published>2010-01-05T05:07:00.001-08:00</published><updated>2010-01-05T05:07:49.655-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>George : Lakukan Falsifikasi, Bukan Verifikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silakan lakukan falsifikasi jangan memaksa saya untuk melakukan verifikasi. Bukan tugas saya untuk mengungkap lebih detail.” Demikian ungkapan George Junus Aditjondro dalam diskusi pra launching buku Membongkar Gurita Cikeas, Dibalik Skandal Bank Century, di Doekoen Café, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (30/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan tersebut sekaligus menjawab keraguan tentang fakta dibalik buku yang kini tengah menjadi kontroversi di masyarakat. Berkali-kali George menegaskan, “Buku ini bukan isu, bukan gosip, bukan intelijen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, George menilai adanya sejumlah dana melalui Bank Century yang mengalir ke beberapa yayasan milik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diantaranya Yayasan Puri Cikeas, Yayasan Majelis Dzikir SBY Nurussalam, Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (YKDK), dan Yayasan Mutu Manikam Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, suntikan dana juga sempat mengalir ke harian Jurnal Nasional (Jurnas) yang disinyalir menjadi corong politik partai Demokrat serta adanya separoh dana Public Service Obligation (PSO) LKBN Antara yang mengalir untuk Bravo Media Center yang juga tim kampanye SBY-Boediono. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya menjadi buku yang ramai dicari saat ini, buku tersebut bahkan membuat sejumlah pihak merasa tertuduh termasuk Presiden SBY.&lt;br /&gt;Salah satu diantaranya yang juga hadir dalam acara tersebut adalah Ramadhan Pohan selaku pemimpin redaksi harian Jurnal Nasional (Jurnas). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat terjadi ketegangan ketika Ramadhan menyatakan bahwa buku yang ditulis George hanyalah sebuah khayalan. Hal tersebut memancing kemarahan George hingga ia melayangkan buku ke muka Ramadhan. Ia pun diusir dari ruang diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dalam waktu bersamaan di luar terjadi demo dukung SBY dalam rangka menanggapi buku yang ditulis George tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku setebal 183 halaman ini rencananya akan direvisi dan akan dikeluarkan edisi baru. “Bisa saja halamannya bertambah tapi yang pasti tidak berkurang,” kata George. (wie)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-7546249884159811234?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/7546249884159811234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=7546249884159811234' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/7546249884159811234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/7546249884159811234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2010/01/george-lakukan-falsifikasi-bukan_05.html' title=''/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-8241780294419974309</id><published>2009-10-02T08:15:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T08:17:17.944-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYZadi3iHI/AAAAAAAAAE4/WKOoFcVn6r4/s1600-h/DSCF2448.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388021946593544306" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 384px; CURSOR: hand; HEIGHT: 288px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYZadi3iHI/AAAAAAAAAE4/WKOoFcVn6r4/s400/DSCF2448.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYZTbNXKuI/AAAAAAAAAEw/cb3R-7KPx1c/s1600-h/DSCF2437.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388021825707387618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 288px; CURSOR: hand; HEIGHT: 384px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYZTbNXKuI/AAAAAAAAAEw/cb3R-7KPx1c/s400/DSCF2437.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bekal yang Tak Pasti&lt;br /&gt;Oleh : Dewi Rachmat Kusuma&lt;br /&gt;-------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tinggalnya hanya cukup untuk melindunginya dari sengat matahari dan derasnya hujan. Atapnya terbuat dari seng, dindingnya disekat menggunakan papan dan lantainya hanya semen kasar yang ditutup pakai karpet plastik tipis. Ukurannya pun hanya sekotak ruangan multifungsi tanpa sekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat tidur dari bambu untuk dua cucunya, Riri Rahmadani (6), saat ini sekolah di TK dan Ridho Anriyamsyah (8), duduk di bangku kelas 2 SD dan sang nenek, Suminar (53) tidur di lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping tempat tidur, nyempil dapur dan tempat makan, jika ada tamu, ya semuanya ngumpul jadi satu, di ruangan yang sudah dua tahun ditempatinya itu. Panasnya Pedongkelan, Jakarta Timur itulah mereka bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak enam tahun silam, saat sang ibu dari anak-anak meninggal dan ayahnya memilih untuk meninggalkan mereka karena tak kuat menanggung beban, memaksa Suminar untuk mengasuh dua bocah yang kini mulai bertanya kemana orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap harinya, Suminar mengais rezeki dari sisa-sisa botol minuman untuk kemudian dijual ke agen barang-barang bekas. “yah, sehari paling dapet tiga kilo paling sedikit, sekilonya cuma empat ribu, jadi ya cukup buat makan sama jajan anak-anak saja”, ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti yang lain yang terus mengeluh meratapi susahnya hidup. Bagi Suminar, anak-anak harus tetap sekolah, walaupun sekolah gratis yang fasilitasnya sangat jauh dari sekolah-sekolah pada umumnya.&lt;br /&gt;Tak ada harapan muluk dari nenek itu. Dia hanya ingin kedua cucunya itu kelak tak seperti dirinya. “saya cuma pengen cucu-cucu saya pinter dan bisa menguasai pelajaran, kan ntarnya enak,” harapnya lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang Riri dan Ridho mengikuti jejak sang nenek memungut gelas-gelas dan botol-botol yang berserakan. “Lumayan, nambah-nambah penghasilan”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sisa uangnya kan bisa buat nyicil bayar kontrakan”, tandasnya. “Kalo seratus lima puluh ribu dibayar langsung kan berat”, tambahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ada tawa menggelitik ketika si bocah ditanya soal cita-cita. “Aku pengen jadi Kamtib biar bisa ngebelain omah”, celetuk Riri polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dua bocah itu, pengalaman buruk tentang pemulung, pengamen jalanan, pedagang asongan dan kamtib masih mengiang dalam ingatannya ketika beberapa waktu silam, ayahnya ditahan karena berdagang di jalan yang tidak semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bekal saya hanya mereka, ya meskipun itu belum pasti, kaya apa nantinya, Tuhan pasti masih kasihan ngeliat kita susah”, pinta sang nenek berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----0-----&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-8241780294419974309?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/8241780294419974309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=8241780294419974309' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/8241780294419974309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/8241780294419974309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/10/bekal-yang-tak-pasti-oleh-dewi-rachmat.html' title=''/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYZadi3iHI/AAAAAAAAAE4/WKOoFcVn6r4/s72-c/DSCF2448.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-6762878844090181588</id><published>2009-10-02T07:40:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T07:41:09.876-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Eksistensi Film Sebagai Produk Budaya&lt;br /&gt;Oleh : Dewi Rachmat Kusuma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah menonton Laskar Pelangi? Denias? atau Ayat-Ayat Cinta? atau mungkin Ketika Cinta Bertasbih yang baru-baru ini diputar di bioskop? Film-film tersebut bisa dikatakan deretan film Indonesia yang mencoba menyuguhkan mutu substansi sebuah karya audio visual yang tak latah dengan sejumlah judul film yang mengumbar muatan kekerasan, seks, horor, dan romantisme percintaan. Judul-judul film tersebut menunjukkan bahwa perfilman nasional Indonesia saat ini terus merangkak untuk membuktikan eksistensinya sebagai salah satu produk budaya yang memiliki identitas. Bisa diartikan, perfilman Indonesia saat ini telah menempati posisi tertentu dalam masyarakat Indonesia. Tak heran, film dijadikan salah satu media untuk menyampaikan informasi yang bersifat mendidik, tidak semata-mata untuk hiburan.&lt;br /&gt;Disamping sebagai media komunikasi, film merupakan karya cipta manusia yang berkaitan erat dengan berbagai aspek kehidupan, salah satunya pendidikan. Melalui film, bisa tergambar ciri budaya masyarakat yang bersangkutan, karena melalui film masyarakat dapat melihat secara nyata apa yang terjadi di tengah masyarakat tertentu.&lt;br /&gt;Film adalah sebuah proses budaya suatu masyarakat yang disajikan dalam bentuk gambar hidup—audio visual—. Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa masyarakat cukup menyadari tentang keberadaan film  sebagai bukti eksistensi sebuah budaya. Sama seperti buku yang memiliki masa dan pembacanya, maka film pun memiliki jaman dan penontonnya. Saat inilah, masanya perfilman Indonesia bangkit dari keterpurukan, terlepas dari kualitas sebuah film, apapun jenis dan bentuknya, film tetaplah bagian dari budaya sebuah bangsa.&lt;br /&gt;Apapun jenis atau temanya, film selalu memunculkan pesan moral kepada masyarakat yang dapat diserap dengan mudah karena film menyajikan pesan tersebut secara nyata. Gambar hidup yang ditampilkan di film memberi dampak yang berbeda dari untaian kata-kata dalam sebuah buku.&lt;br /&gt;Contoh-contoh film yang telah disebutkan di atas misalnya, tak banyak sineas berusaha tetap menunjukkan ciri budaya bangsanya dengan menyajikan film bernuansa pendidikan, seperti impian seorang anak desa yang ingin bersekolah tinggi, atau kerja keras seorang mahasiswa pribumi di negeri orang demi mencapai cita-cita. Tema-tema yang diangkat identik dengan budaya dan persoalan-persoalan khas masyarakat di negara tersebut. Maka, film memang sesuatu yang khas, unik, dan nyata. Hal tersebut dibuktikan dengan terpilihnya film Laskar Pelangi sebagai pemenang di ajang Indonesia Movie Award (IMA) 2009 beberapa waktu lalu. Ini menunjukkan film sebagai media, mampu mentransfer ideologi dan budaya mereka kepada masyarakat dunia, tanpa harus membuat penontonnya bermimpi.&lt;br /&gt;Namun ketika masyarakat terus-menerus disuguhkan tontonan yang memuat unsur-unsur  kekerasan, seks, horor, drama percintaan yang berlebihan oleh para sineas demi orientasinya terhadap pasar, maka tak menutup kemungkinan, semuanya akan terekam menjadi sebuah hal yang wajar jika terjadi dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;            Untuk itu, tak lain untuk menjaga eksistensi tersebut, harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah sebagai penentu kebijakan yang relevan dan luwes mengenai perfilman, dan pekerja seni yang menjalankan profesinya dengan merujuk pada fungsi film sebagai media pendidikan bagi masyarakat, serta peran masyarakat dengan mengembangkan sikap-sikap kritis dalam memberikan penilaian terhadap film, serta menjadikan film sebagai media pembelajaran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-6762878844090181588?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/6762878844090181588/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=6762878844090181588' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/6762878844090181588'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/6762878844090181588'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/10/eksistensi-film-sebagai-produk-budaya.html' title=''/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-1020087118767694351</id><published>2009-10-02T07:37:00.001-07:00</published><updated>2009-10-02T07:39:31.520-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYQf6yWAvI/AAAAAAAAAEo/jsnc6P6bkRA/s1600-h/DSCF2233.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388012144737780466" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYQf6yWAvI/AAAAAAAAAEo/jsnc6P6bkRA/s400/DSCF2233.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYQUYAQTuI/AAAAAAAAAEg/2z5SVBjjl14/s1600-h/DSCF2254.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388011946422324962" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 384px; CURSOR: hand; HEIGHT: 288px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYQUYAQTuI/AAAAAAAAAEg/2z5SVBjjl14/s400/DSCF2254.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sang Penyelamat di Palang Pintu Kereta&lt;br /&gt;Oleh : Dewi Rachmat Kusuma&lt;br /&gt;------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman (54), tubuh renta-nya tak menyurutkan niatnya untuk selalu membantu orang lain. Dengan berbekal sebuah peluit dan lambaian tangan serta mata renta yang jeli, ia berusaha untuk menertibkan lalu lintas yang semrawut disepanjang perlintasan kereta api di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tempat ini biasa disebut perempatan Volvo.&lt;br /&gt;Lokasi ini tak jauh dari stasiun Pasar Minggu, perempatan yang menghubungkan arah Pasar Minggu menuju Kalibata. Tempatnya yang sempit, hanya beberapa meter saja, dan hanya pas untuk menutup palang pintu kereta dari dua arah yang berlawanan.&lt;br /&gt;Jika biasanya perlintasan kereta cukup dengan dua arah yang ditutup palang pintu, berbeda dengan tempat ini. Ada satu jalur lagi yang tidak tertutup palang pintu. Hingga posisinya, satu jalur dari arah Pasar Minggu menuju Kalibata dan dua jalur dari arah Kalibata menuju Pasar Minggu.&lt;br /&gt;Dua jalur itu terbelah dengan berdirinya sebuah warung nasi yang biasa kita sebut warteg dan bengkel motor, sehingga membuat pengendara tak melihat datangnya kereta dari arah Pasar Minggu.&lt;br /&gt;Keadaan tersebut yang membuat Maman tergerak hatinya untuk ikut menertibkan para pengendara yang semrawut itu. “Polisi pun kewalahan menertibkannya”, ungkap Maman.&lt;br /&gt;Setiap harinya, Maman yang memiliki empat orang anak hanya mengandalkan kerelaan dari para pengendara untuk sedikit menyisihkan recehannya. “Saya tidak ingin meminta-minta, saya hanya menerima keihklasan dari mereka yang ingin memberi, tidak pun tak jadi masalah asal saya bisa membantu menyelamatkan mereka”, ucapnya.&lt;br /&gt;Menjadi calo pembuatan SIM atau KTP pun, ia lakoni demi menutupi kebutuhan hidupnya. “Selama ini, cukuplah hanya untuk makan keluarga saja”, ucapnya lirih.&lt;br /&gt;Pekerjaannya sebagai pengatur lalu lintas di palang pintu kereta menuntutnya untuk selalu hati-hati. Lengah berarti maut. Hal itu yang selalu Maman perhatikan betul. “Kesabaran dan kesadaran pengendara pun ikut andil dalam menertibkan lalu lintas ini”, jelasnya.&lt;br /&gt;Lampu putih menyala berarti kereta akan segera datang. Suara peluit pun mengencang dan lambaian tangan siap memberi isyarat bahwa tak boleh ada pengendara yang lewat.&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, “Saat itu hujan deras, ada seorang ibu separuh baya menggunakan sepeda motor, menerobos perlintasan kereta api saat bunyi sirine terdengar, di tengah rel, sepeda motornya macet karena memang rel akan mengunci otomatis ketika kereta api datang, ibu tersebut terjatuh beserta sepeda motor dan kentang bawaannya, melihat kenekatan ibu tersebut, akhinya saya langsung menarik paksa ibu itu dan mengamankan motornya, karena si ibu nekat menyelamatkan kentang bawaannya. Tersadar kalau nyawanya selamat dari maut, ibu itupun langsung memeluk saya dan mengucap syukur”, kenang Maman.&lt;br /&gt;Tak hanya itu, lagi-lagi ketidaksabaran pengendara yang membuatnya harus beradu otot demi menyelamatkan nyawa orang-orang yang melintasi perlintasan itu.&lt;br /&gt;“Pernah ada satu mobil menerobos perlintasan rel ketika sirine berbunyi. Peristiwanya pun sama. Mobil berhenti di tengah rel. Saat itu di dalamnya terdapat empat orang, tak pikir panjang, saya lari, mengetuk pintu mobil dan berteriak meminta seluruh orang dalam mobil itu keluar, namun si ibu, salah satu penumpangnya masih enggan meninggalkan mobil karena memikirkan nasib si mobil, kemudian saya paksa keluar, alhasil semua penumpang selamat namun mobil terseret beberapa meter dan hancur”.&lt;br /&gt;Bagi Maman, nyawa dan keselamatan pengendara di atas segala-galanya. Tak sedikit orang-orang tersebut terlepas dari mautnya, walaupun sang pemilik maut hanyalah satu, sang pencipta. Namun hidup adalah ikhtiar. Dari pengabdian Maman itu, tak berlebihan rasanya jika kita menyebutnya sebagai sang penyelamat di palang pintu kereta. Peran kecil namun bermanfat besar bagi orang lain, yang justru terabaikan dari pandangan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----0----- &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-1020087118767694351?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/1020087118767694351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=1020087118767694351' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/1020087118767694351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/1020087118767694351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/10/sang-penyelamat-di-palang-pintu-kereta.html' title=''/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYQf6yWAvI/AAAAAAAAAEo/jsnc6P6bkRA/s72-c/DSCF2233.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-1252154187205098013</id><published>2009-10-02T07:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T07:36:55.208-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYP9Oi0HDI/AAAAAAAAAEY/avtXIvLyAxM/s1600-h/Copy+of+Copy+of+100_0628.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388011548745931826" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYP9Oi0HDI/AAAAAAAAAEY/avtXIvLyAxM/s400/Copy+of+Copy+of+100_0628.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pahlawan itu Bernama Master&lt;br /&gt;Oleh : Dewi Rachmat Kusuma&lt;br /&gt;-------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurrohim dan Purwandri Ono sepakat mendirikan sekolah untuk anak-anak jalanan. Tak ada manusia yang menginginkan terlahir menjadi gelandangan. Begitu juga dengan anak-anak di sekolah ini. Yayasan Bina Insan Mandiri ini telah menelurkan sekitar seribu-an murid sejak tahun 2004 dengan 50 tenaga pengajar relawan.&lt;br /&gt;Dari TK, SD, SMP, hingga SMA, semua kalangan pinggiran itu belajar disini. Bahkan, ada program satu tahun kelas akademisi untuk mereka yang memiliki akademis bagus dan akan dilanjutkan ke perguruan tinggi. Semua pendidikan itu gratis yang nyata bukan mitos.&lt;br /&gt;Ketika itu, ungkap Andre (42), sapaan akrab Purwandri Ono, aktivitas saya yang berjualan handphone di terminal Depok selalu mampir ke masjid saat istirahat. Selain sholat, tak hanya untuk merebahkan tubuh karena letih, saya pun memperhatikan lalu lalang sekumpulan anak yang asyik bersenda gurau dengan masing-masing alat musik seadanya. Seperti gitar kecil, kecrekan dan berbagai jenis alat musik jalanan.&lt;br /&gt;Seolah tak ada tuntutan menjadi lebih baik, anak-anak yang masih usia sekolah tersebut terus melakukan aksinya di jalanan setiap hari. Awalnya, saya mencoba dari sekitar sepuluh orang mengajak mereka belajar di emperan masjid dan menyelipkan tanya, masih adakah rasa ingin belajar dalam diri mereka? Namun, tak hanya mereka, waktu bergulir banyak yang berminat bahkan yang bukan usia sekolah lagi.&lt;br /&gt;Mencetak generasi mandiri, cerdas, berakhlak baik dan mencetak pribadi yang kreatif merupakan tujuan dari didirikannya sekolah ini.&lt;br /&gt;Berdasar pada niat yang baik dan berbagi rasa serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar, dan intinya menganggap ini kewajiban, bukan beban, membuat Andre tergugah untuk terus memikirkan nasib anak-anak jalanan ini.&lt;br /&gt;Bermodal warung Tegal (warteg) milik Rohim dan berkembangnya usaha Andre menjadi konsultan bangunan dan supplier peralatan kantor menjadi titik terang menggeliatnya sekolah ini. Tak menampik, sumbangan dari donator pun sangat membantu berkembangnya sekolah ini.&lt;br /&gt;Dari buka counter handphone hingga bisa mendirikan yayasan adalah hal yang paling indah buat Andre.&lt;br /&gt;“Saya punya kebahagiaan, saat saya bisa membahagiakan orang lain. Pada saat saya bisa membuat orang senang, dan bisa membuat mereka mandiri, itu sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang”, ungkapnya yakin.&lt;br /&gt;“Semuanya akan tertebus ketika melihat mereka bisa bersaing dengan dunia luar dengan bekal yang mereka miliki yaitu kepintaran, keterampilan dan akhlak yang baik. Sehingga berguna bagi dirinya minimal dan bisa bermanfat juga bagi orang-orang disekitarnya,” tambahnya penuh harap.&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Andre, Mustamiin (26), salah satu tenaga relawan juga turut bahagia dengan adanya sekolah ini. “Ketika pola pikir berubah, cara pandang, kepercayaan diri muncul, itu yang mahal,” ungkapnya.&lt;br /&gt;Memulai dengan “Kau adalah temanku“ itu membuat pengajaran lebih diterima mereka. “Lebih kepada pendekatan personal itu penting, tanpa menggurui,” ucapnya terharu.&lt;br /&gt;Tak hanya sekolah, usaha sablon milik Mustamiin juga salah satu ladang kerja ketika mereka lulus nanti. Tak lain, “Ini adalah kebermaknaan hidup, membuat semuanya bisa berjalan hingga sekarang,”ucapnya.&lt;br /&gt;Sekolah yang terletak di belakang terminal Depok ini, memulai sekolahnya di masjid sehingga kemudian dikenal dengan nama sekolah Master (Masjid Terminal). Namanya juga belakang terminal, tak heran jika penghuninya pun berasal dari kalangan anak jalanan, pengamen, preman, bahkan pembantu rumah tangga dan office boy pun ikut meramaikan sekolah ini.&lt;br /&gt;Masjid terminal atau Master merupakan pahlawan bagi mereka. Mereka tak lagi dikucilkan dalam masyarakat, malah mereka patut bangga dengan sebutan gelandangan yang mampu bersaing dengan dunia luar. Misalnya saja, M. Ayatullah Komeni (20) lulusan Yayasan Bina Insan Mandiri ini lolos dalam UMPTN sastra Jawa Universitas Indonesia tahun lalu. Sama halnya dengan dua temannya yang juga lolos UMPTN. Ini sebuah kebanggaan!.&lt;br /&gt;“Tak hanya keakraban guru dengan murid, disini ajang pendidikan yang memupuk rasa cinta dan kepedulian yang tinggi terhadap sesama”, ucap sang juara. Tak ada imbalan untuk mereka, hanya kewajiban moral untuk mengajar disini sebagai ungkapan rasa kepedulian terhadap sesama. Ini patut dikembangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----0----- &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-1252154187205098013?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/1252154187205098013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=1252154187205098013' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/1252154187205098013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/1252154187205098013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/10/pahlawan-itu-bernama-master-oleh-dewi.html' title=''/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYP9Oi0HDI/AAAAAAAAAEY/avtXIvLyAxM/s72-c/Copy+of+Copy+of+100_0628.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-7439374123333273118</id><published>2009-10-02T07:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T07:34:53.244-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYPfbd4CUI/AAAAAAAAAEQ/es9dSNOb7UE/s1600-h/DSCF2302.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388011036818803010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 231px; CURSOR: hand; HEIGHT: 305px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYPfbd4CUI/AAAAAAAAAEQ/es9dSNOb7UE/s400/DSCF2302.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYPUVh9anI/AAAAAAAAAEI/Nzrkpcyd6Uc/s1600-h/DSCF2326.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388010846246759026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYPUVh9anI/AAAAAAAAAEI/Nzrkpcyd6Uc/s400/DSCF2326.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nafasku adalah Dakwah&lt;br /&gt;Oleh : Dewi Rachmat Kusuma&lt;br /&gt;------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Separuh hidupnya, ia abdikan untuk mengasuh pesantren sederhana yang dibina bersama istri tercintanya Hj. Saodah. Bersama delapan anaknya yang kini hanya tersisa enam orang, K.H. Ridwanullah Muin (62) tak pernah lelah untuk berdakwah.&lt;br /&gt;Sejak usia muda, sekitar usia anak SMP, rutinitas mengajar tak pernah lepas dari hidupnya. Abah Ridwan, panggilan akrab sang kiyai, biasa melakukan aktivitas seperti mengajar anak-anak madrasah diniyah pada pagi hari, ibu-ibu majelis ta’lim disiang hari, dan puluhan anak pesantren dimalam hari. “Mungkin saya ditakdirkan untuk ngajar”, tutur sang kiyai.&lt;br /&gt;Tempat yang mewah bukan jaminan menjadikan seseorang bisa belajar dengan baik. Seperti halnya Pondok Pesantren Mambaul Hikam ini, terletak di pinggiran pantura Jawa Barat, Desa Patrol, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu ini terbilang cukup untuk aktivitas belajar-mengajar Al-Quran dan kitab kuning. Bangunannya hanya terdiri dari dua pondok kecil untuk penginapan 50 santri putra dan putri, satu aula untuk mengaji, lapangan basket, dan masing-masing kamar mandi serta kantin.&lt;br /&gt;Mengawali usahanya berkeliling menggunakan sepeda menjual sandal jepit, membuka usaha sembako, rumah makan, bertani, hingga usaha sablon, ia lakoni hingga sampai pada tujuan hidupnya berdakwah di jalan Allah SWT. “Namun, semua usaha itu tak ada yang abadi seperti pekerjaan saya mengajar ini”, jelasnya.&lt;br /&gt;Berbekal tanah warisan orang tua seluas setengah hektar yang ia bagi menjadi tiga tempat, untuk tempat tinggal sederhananya, madrasah, dan pondok pesantren. Untuk makan sehari-harinya bersama keluarga dan santri, ia hanya mengandalkan hasil sewa dari sawah pemberian orang tuanya.&lt;br /&gt;“Sejak masa bujangan dulu, saya selalu diikuti anak-anak yang ingin sekali mengaji. Mereka ingin diajar ngaji. Terus-menerus akhirnya saya terpikir untuk rutin mengajar mereka dengan rumah kecil saya sebagai tempatnya”, Cerita sang kiyai.&lt;br /&gt;Dengan tempat awal, rumahnya yang hanya 7 x 6 meter saja, akhirnya sang kiyai kebingungan setiap kali ia menerima tamu. “Kalau anak-anak semua pada ngaji, kalau ada tamu, tamunya ga bisa masuk, sebaliknya kalau tamu masuk, anak-anak yang ngaji ga bisa masuk”.&lt;br /&gt;Akhirnya saya berpikir, dengan sisa tanah yang saya punya dan bantuan dari masyarakat setempat berdirilah pesantren ini. Sejak didirikan 1990 silam, pesantren ini lambat laun berkembang dengan mendirikan TK Al-Quran kemudian menyusul MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) dan pada tahun 2002 didirikanlah Madrasah Tsanawiyah gratis untuk mereka yang tidak mampu.&lt;br /&gt;Setahun terakhir, pesantren ini mulai mengepakkan sayapnya di udara dengan diluncurkannya radio dakwah bernama Shoutun Nida. Walaupun jarak siarnya hanya beberapa tetangga desa saja. Tak aneh, jika penceramah yang didatangkan untuk mengisi siaran di radio tersebut pun didatangkan secara sukarela dengan tujuan dakwah.&lt;br /&gt;Abah Ridwan dengan latar belakang 12 tahun mendalami ilmu agama di beberapa pondok pesantren seperti Kempek di Cirebon, Poso, Lirboyo di Kediri ini kerap tak menyangka perjalanan hidupnya hingga mencapai keadaan sekarang.&lt;br /&gt;“Saya sadar bahwa ini pemberian Allah yang harus saya syukuri Jangankan orang lain, diri saya saja kaget, kok saya bisa haji, dari mana saya dapet uang, dari mana datangnya? Saya yakin bahwa ini pemberian Allah, dipikir secara logika tidak masuk akal”.&lt;br /&gt;Tak jarang, Abah Ridwan mendapat kesulitan dalam mengurus pesantren yang dinilainya masih sangat memprihatinkan ini. Kendala dana, tenaga pengajar, dan dukungan dari masyarakat pun menjadi beberapa dari alasan yang membuat pesantren ini merayap perlahan sebelum menuju puncaknya.&lt;br /&gt;Beberapa kali pesantren ini nyaris tak berpenghuni, ditambah ketika sang kiyai beberapa kali pula diuji dengan sakit stroke. Namun, atas izin dari sang Kholik, pesantren ini kembali bersuara.&lt;br /&gt;Tujuan hidup saya tak lain adalah memberi manfaat untuk orang lain. Salah satu caranya dengan berdakwah. Tergerak atas perintah Allah dan Rasul bahwasannya setiap kita umat Islam berkewajiban untuk menyampaikan amanat ajaran Allah kepada mereka umumnya semua manusia, khususnya kaum muslim.&lt;br /&gt;Salah satu manfaatnya, “Banyak dari mendengarkan radio kita, alhamdulillah dulunya ga ibadah, setelah mendengar radio tersebut jadi ibadah, dulu ga berjilbab, sekarang berjilbab. Banyak Allah memberi hidayah kepada pendengar-pendengar kita”, ucap syukur sang kiyai.&lt;br /&gt;Tak ada harapan untuk seorang senja seperti saya yaitu memohon kepada Allah SWT, pesantren saya khususnya bisa maju, bisa menyuarakan Islam sesuai dengan ridho Allah, bisa dipimpin anak ketururunan saya untuk bersama-sama belajar di pesantren ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----0-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-7439374123333273118?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/7439374123333273118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=7439374123333273118' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/7439374123333273118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/7439374123333273118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/10/nafasku-adalah-dakwah-oleh-dewi-rachmat.html' title=''/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYPfbd4CUI/AAAAAAAAAEQ/es9dSNOb7UE/s72-c/DSCF2302.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-8522121335070040380</id><published>2009-10-02T07:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T07:32:17.065-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYO0Uf55cI/AAAAAAAAAEA/tTD0tQAg6ug/s1600-h/DSCF2111.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388010296213890498" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 384px; CURSOR: hand; HEIGHT: 288px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYO0Uf55cI/AAAAAAAAAEA/tTD0tQAg6ug/s400/DSCF2111.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari Emperan Hingga Peraduan&lt;br /&gt;Oleh : Dewi Rachmat Kusuma&lt;br /&gt;-------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, ada belasan anak jalanan tidur di emperan rumah ibu. Mereka korban banjir saat banjir besar di daerah Galur 6 Februari 1995 silam. Setelah diusir beberapa kali, sekumpulan anak itu tetap saja enggan beralih dari tempatnya.&lt;br /&gt;Tak tega, akhirnya ibu Pandoyo pun memberi mereka makan setiap harinya. Setelah beberapa hari, keberadaan anak-anak itu pun diketahui ketua RT setempat hingga memaksa ibu Pandoyo untuk membubarkannya karena meresahkan masyarakat, katanya. Kenang anak sulung dari almarhum ibu Pandoyo itu.&lt;br /&gt;Cerita itulah yang menggariskan sejarah adanya penampungan anak-anak jalanan, gelandangan, anak yatim, pengamen bahkan preman.&lt;br /&gt;Sepeninggal ibu Pandoyo, tanggungjawab pun diserahkan kepada anak sulungnya, Alexander J. Suwardi. Profesinya sebagai notaris ia tanggalkan demi mewujudkan impian ibundanya, mengurus anak-anak yang seharusnya bukan menjadi tanggungannya.&lt;br /&gt;Tak jarang, Suwardi merogoh kocek untuk menghidupi mereka hingga berhasil menyekolahkan anak-anak asuhnya. Bahkan sampai ke perguruan tinggi.&lt;br /&gt;Dari tempat penampungan inilah, Suwardi mencoba untuk tidak hidup egois. Kepuasan batin ketika melihat anak-anak yang tadinya liar menjadi baik.&lt;br /&gt;“Walaupun segala-galanya butuh uang tapi uang bukan segala-galanya. Kepuasan batin adalah sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan materi”, ucapnya tegas.&lt;br /&gt;Griya Asih yang terletak dipinggiran Jakarta Pusat, Cempaka Putih Barat, Mardani tepatnya, memiliki 56 penghuni dengan latar belakang yang berbeda. Tempatnya sederhana, cukup untuk menampung anak-anak yang kehilangan hak mereka. Sebuah kontrakan yang jauh dari gemerlap mewahnya ibukota Jakarta, namun nyaman untuk ditinggali.&lt;br /&gt;Tak ada niat lain dari penampungan anak-anak itu, alasannya simpel, ia ingin melindungi dan memberi pengakuan tentang keberadaan mereka.&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan anak yang lain, mereka pun memiliki hak yang sama. “Dengan adanya rumah tinggal ini saya memiliki harapan agar yang tadinya mereka gelandangan menjadi stay di rumah, dan layaknya anak yang lain, tidak dikucilkan dalam masyarakat, tidak dibuang di masyarakat dan mereka merasa di”orang”kan,” ucap Suwardi.&lt;br /&gt;Namun, kerap kali saya dan pengasuh yang lainnya kewalahan mengurusi mereka, karena dasarnya –maaf— liar, jadi kita berusaha menanamkan nilai-nilai hidup, kami sekolahkan ilmu terapan seperti SMIP atau sekolah perhotelan, sehingga mereka bisa berguna di masyarakat nantinya.&lt;br /&gt;Walaupun donator tetap belum ada, namun untuk biaya sehari-hari dan sekolah anak-anak biasanya ada saja orang yang mau mengulurkan tangannya. Pernah dari Dinas Sosial datang meninjau namun belum sampai memberi bantuan secara konkrit.&lt;br /&gt;“Tak ada yang menandingi rasa bahagia saya ketika melihat anak-anak sukses kelak”. Seperti halnya Herlan, sekarang sudah menjadi kepala salah satu divisi di hotel Akasia, Jakarta dan ada juga yang dulunya tukang tawuran bisa dikatakan preman, sekarang menjadi petani ikan di Jatiluhur.&lt;br /&gt;Dengan cita-cita mencerdaskan anak bangsa, Suwardi berharap ingin memiliki rumah sendiri agar bisa menampung anak-anak dengan tanpa beban. Hingga tak ada lagi cerita anak-anak tinggal di emperan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----0-----&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-8522121335070040380?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/8522121335070040380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=8522121335070040380' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/8522121335070040380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/8522121335070040380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/10/dari-emperan-hingga-peraduan-oleh-dewi.html' title=''/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/SsYO0Uf55cI/AAAAAAAAAEA/tTD0tQAg6ug/s72-c/DSCF2111.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-3693737541051649444</id><published>2009-01-29T00:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-29T00:27:03.730-08:00</updated><title type='text'>Seminar All About Indonesia Movie</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;PRESS RELEASE&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Jakarta, 30 Desember 2008&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;b&gt;Seminar &lt;i&gt;All About Indonesia Movie&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;b style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;Diskusi : Film dan Sensor “Kritisi Perfilman Indonesia” :&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt; Buka Pandangan Mengenai Perfilman Indonesia Pasca Putusan UU Perfilman&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Setelah beberapa kali mengalami kendala dengan berganti-ganti tema, akhirnya seminar &lt;i&gt;All About Indonesia Movie&lt;/i&gt; dengan tema diskusi Film dan Sensor “Kritisi Perfilman Indonesia” pun berhasil diselenggarakan di ruang 46 kampus Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta, pada 30 Desember 2008. Acara tersebut menghadirkan dua narasumber dari Masyarakat Film Indonesia (MFI), yaitu : Tito Imanda (Anggota MFI), dan Dyah Aryani P.,SH, MH (Lawyer/Konsultan Hukum MFI). Acara tersebut terselenggara atas kerjasama Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Kajian Radio, Televisi, dan Film (UKM-FKRTF) IISIP Jakarta, Seventeen, dan CitaCinta. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Acara yang membahas mengenai pasca putusan UU Perfilman oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dan dimenangkan oleh lembaga Sensor Film (LSF) atas MFI ini digelar dengan tujuan mengajak mahasiswa untuk tidak hanya sekadar menjadi penikmat film saja tetapi dapat mengkritisi film yang kita tonton. Selain itu, diharapkan dengan adanya acara ini dapat membuka pandangan mengenai kontroversi yang sempat menegangkan antara dua kubu, yaitu LSF dan MFI.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Pihak yang mendukung penghilangan sensor (MFI) berargumen bahwa sensor tidak berpihak kepada kebebasan berekspresi, perlindungan konsumen, serta menunjukkan nilai-nilai budaya patriarkal yang membuat masyarakat melihat moral secara sempit. &lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Pihak yang mendukung keberadaan pasal-pasal sensor (LSF) berulang-ulang menyatakan bahwa sensor merupakan prasyarat bagi perlindungan moral masyarakat, terutama untuk anggota-anggota masyarakat yang belum matang cara berpikirnya dari kebebasan yang tidak terbatas. Pihak yang mendukung gugatan ke Mahkamah Konstitusi ini pun dituding sebagai pihak yang tidak bermoral dan hanya peduli pada kebebasan berekspresi tanpa menawarkan pertanggung-jawaban kerusakan moral yang mereka hasilkan.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Diskusi tersebut disambut meriah oleh para peserta dengan sesi tanya jawab. Tak hanya mahasiswa dari kampus IISIP Jakarta yang berpartisipasi dalam acara tersebut. Mahasiswa dari kampus lain pun tak ketinggalan, antara lain mahasiswa dari Universitas Jayabaya dan lain-lain.&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Bagi ketua pelaksana, Dewi Rachmat Kusuma, acara tersebut bisa dikatakan sukses karena hampir setengah peserta hadir dari target yang diinginkan meskipun pada hari itu sempat berbarengan dengan acara-acara lain di kampus. Acara ditutup dengan menyerahkan plakat kepada sejumlah pembicara dan moderator. &lt;b&gt;(wie)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-3693737541051649444?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/3693737541051649444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=3693737541051649444' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/3693737541051649444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/3693737541051649444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/01/seminar-all-about-indonesia-movie.html' title='Seminar All About Indonesia Movie'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-4180422291775615496</id><published>2009-01-17T02:02:00.000-08:00</published><updated>2009-01-17T02:39:45.269-08:00</updated><title type='text'>Anak-Anak Warnai Aksi Solidaritas Untuk Palestina</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;b&gt;Jakarta&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;b&gt;, 15 Januari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: times new roman; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Aksi damai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk rakyat Palestina kembali digelar. Lebih dari 500 ribu kader beserta simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Jabodetabek dan Jawa Barat memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), Minggu (11/01). Anak-anak pun ikut mewarnai aksi yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;mengecam kejahatan kemanusiaan yang dilakukan &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Israel&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; terhadap rakyat Palestina.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: times new roman; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Aksi tersebut juga didukung organisasi &lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; lainnya seperti dari Dewan Pemuda Gereja &lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan Ikatan Masyarakat Tionghoa. Aksi yang bertemakan “Save Palestine, With Your Blood Your Money”, digelar pukul 08.00 WIB. Bahkan banyak kader PKS yang membawa anak-anaknya yang masih balita. Aksi ini diwarnai pula dengan spanduk-spanduk, dan ikat kepala, antara lain bertuliskan "Save Palestine".&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: times new roman; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Selain itu, massa PKS melakukan &lt;i&gt;happening art&lt;/i&gt; sebagai gambaran atas perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel. Hal tersebut ditunjukkan dengan menerobos &lt;i&gt;camp&lt;/i&gt; Israel serta membakar bendera Israel, kemudian menginjak-injak bendera orang Yahudi tersebut. Mereka juga membawa rudal raksasa sebagai simbol kemarahan rakyat Palestina terhadap Israel.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: times new roman; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Acara tersebut dihadiri oleh Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid dan Ketua Komite Nasional untuk Rakyat Palestina Muqoddam Cholil. Dalam orasinya, Hidayat Nur Wahid yang juga mantan presiden PKS ini menyerukan agar pemerintah Indonesia terus meminta Dewan Keamanan PBB dan Mahkamah Internasional untuk menekan Israel menghentikan serangannya ke Palestina. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: times new roman; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Tak hanya umat Islam, umat agama lain pun ikut mengecam dan mengutuk agresi Israel ini. Mereka meminta Pemerintah Indonesia untuk lebih aktif dalam melakukan upaya-upaya diplomasi untuk menghentikan kebrutalan Israel di Palestina. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: times new roman; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Selain menggelar aksi, acara tersebut bertujuan menggalang dana kemanusiaan untuk rakyat Palestina. Sejumlah relawan disebar disepanjang jalan yang dilalui massa untuk menghimpun dana dari para demonstran. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; font-family: times new roman; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Aksi damai ini juga melakukan &lt;i&gt;long march&lt;/i&gt; dari gerbang barat Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Aksi tersebut berlangsung tertib meskipun sempat membuat macet jalan di sekitar kawasan tersebut. Usai melakukan aksi, massa PKS berputar kembali menuju lapangan Monas. &lt;b&gt;(wie)&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-4180422291775615496?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/4180422291775615496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=4180422291775615496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/4180422291775615496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/4180422291775615496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/01/anak-anak-warnai-aksi-solidaritas-untuk.html' title='Anak-Anak Warnai Aksi Solidaritas Untuk Palestina'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-3385779450356941543</id><published>2009-01-03T00:50:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T00:56:13.254-08:00</updated><title type='text'>HAPPY NEW YEAR 2009</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Cempaka Putih Barat, 1 Januari 2009&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 51, 255);"&gt;Pukul 00.11 WIB&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;KIAMAT ATAU TAHUN BARU???&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Pukul 00.00 WIB, dini hari dengan kaget ku terbangun!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Sebelumnya, pukul 22.00 WIB, karena lelah, beberapa hari berturut-turut tenaga dan waktu diforsir, akhirnya ku putuskan untuk tidur, yang sebenarnya seperti yang biasa dilakukan anak muda atau orang-orang yang terbiasa merayakan pergantian tahun, tak sempurna sepertinya jika malam pergantian tahun, yang biasa di &lt;i&gt;elu-elu &lt;/i&gt;kan sebagian orang yang merayakannya, hanya dilewatkan dengan diam di rumah dan tidur!Aaahhh….rasanya kurang seru, katanya!&lt;br /&gt;Tapi, itu memang sebuah pilihan, merayakan atau diam di rumah?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Malam itu, kebetulan seorang temanku memutuskan untuk menginap di rumahku, dari pada bengong sendirian, mendingan malam tahun baru, nonton TV bareng di rumahku, katanya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;“Tolong bangunin gw, pas jam 12 malam nanti ya…,” pesanku saat itu. Pesanku untuk membangunkan tepat di malam pergantian tahun, bukan untuk mengikuti perayaan malam tahun baru, tapi tak lain, aku penasaran dengan cerita &lt;i&gt;The&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Davinci&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Code&lt;/i&gt; pada novel yang pernah kubaca dengan film yang diputar, mana yang lebih seru? (karena pas pemutaran film &lt;i&gt;The&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Davinci&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Code&lt;/i&gt; di bioskop, aku belum sempat menontonnya, hehehe…)&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Keadaan begitu ramai sekali, suasana gelap, orang-orang berteriak, entah meneriakkan apa, suara gemuruh yang begitu hebat, dan letusan-letusan yang begitu dahsyat, serta perasaan gelisah yang mencekam, ikut menambah perasaan takut kala itu, aku pun bingung, ini apa? Namun setelah beberapa saat, hitungan detik, orang-orang meneriakkan Kiamat! Kiamat! Kiamat! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Seketika itu juga ku langsung terbangun!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Ku lari keluar kamar langsung menuju balkon, menatap jagat yang kurasakan tadi! memastikan bahwa yang aku alami tadi hanya mimpi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Akhirnya….alhamdulillah! keramaian tadi, suara gemuruh dan letusan yang begitu dahsyat ternyata perayaan malam tahun baru! Syukurlah!&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Kutatapi langit yang dihiasi warna-warni kembang api, percikan-percikan api yang menambah kemilau gelapnya langit malam, seakan mengobati rasa takut yang sempat menghampiriku tadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Ya Allah, seandainya mimpi tadi itu adalah benar, aku tak tahu harus berbuat apa???&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Aku belum siap!!!&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Beberapa menit, kumenikmati indahnya langit malam…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Betapa indah dan meriahnya malam ini, andai saja pergantian tahun baru hijriyah diekspresikan seperti meriahnya malam ini??? Namun dengan perwujudan yang lain, pasti akan lebih indah&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Tapi yang pasti, hari ini menjadi tolak awal untuk menjadi lebih baik lagi dengan perwujudan yang lebih nyata…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Met Tahun Baru Hijriyah dan Masehi&lt;/span&gt;  &lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Me,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;-sangdewi-&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-3385779450356941543?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/3385779450356941543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=3385779450356941543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/3385779450356941543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/3385779450356941543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2009/01/happy-new-year-2009.html' title='HAPPY NEW YEAR 2009'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-4578052995509564833</id><published>2008-12-09T23:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T23:35:36.426-08:00</updated><title type='text'>Andrea Hirata : Maryamah Karpov Seperti Laskar Pelangi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;b&gt;Jakarta, 1 Desember 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Menulis Maryamah Karpov seperti pertama kali saya menulis Laskar Pelangi, semuanya begitu &lt;i&gt;exited, &lt;/i&gt;saya kembali merasakan bagaimana susahnya menulis sebuah karya tanpa tahu sastra sebelumnya”. Demikian penuturan Andrea Hirata, penulis novel &lt;i&gt;bestseller&lt;/i&gt; Laskar Pelangi dalam konferensi pers di MP Bookpoint, Jl. Puri Mutiara Raya No.72, Cipete, Jakarta Selatan, Jumat (28/11).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Andrea juga menjelaskan, dalam Maryamah Karpov ini, semua pertanyaan dan rasa penasaran akan terjawab disini dan sekaligus menjadi kisah akhir yang menceritakan semua hal tentang Laskar Pelangi. “Karya-karya ini, akan saya persembahkan untuk dua keponakanku dan ibunda tercinta,” tambahnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pada acara tersebut, tampil juga Iman Sholeh, seniman asal Bandung, pemimpin &lt;i&gt;Center of Cultural&lt;/i&gt; Ledeng, yang juga dosen penyutradaraan dan pemeranan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), yang membacakan puisi dari penggalan naskan Maryamah Karpov.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Novel terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi, Maryamah Karpov setebal 504 halaman ini mulai beredar sejak 28 November 2008. &lt;b&gt;(wie)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-4578052995509564833?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/4578052995509564833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=4578052995509564833' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/4578052995509564833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/4578052995509564833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2008/12/andrea-hirata-maryamah-karpov-seperti.html' title='Andrea Hirata : Maryamah Karpov Seperti Laskar Pelangi'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-570292048648380590</id><published>2008-10-29T00:25:00.000-07:00</published><updated>2008-10-29T00:59:46.935-07:00</updated><title type='text'>Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir???</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Selasa, 28 Oktober 2008&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Percetakan Negara, Cempaka Putih Barat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Pukul 15:40 WIB&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Satu pesan singkat terlihat di &lt;em&gt;inbox handphone&lt;/em&gt; ku, pesan itu muncul pukul 12:07 dini hari, tepatnya Kamis, 9 Oktober 2008 lalu. Hari berikutnya baru kubuka dan kubaca pesan itu karena waktu itu handphone ku seharian sengaja kumatikan. Ada beberapa pesan yang kulihat, tapi semua isinya sama, tanya inilah-itulah, tugas inilah-itulah. Namun ada dua butir pesan singkat yang membuatku ingin sekali membukanya, pesan itu tanpa nama. Perlahan kubuka dan kubaca, sungguh kaget ku membacanya! Seseorang memberitahuku keberadaan dia selama ini. Sepenggal isi pesannya begini “Non, tau ga sekarang FQ ada dimana? Sekarang dia kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, bla bla bla….” Sempat kuhentikan jari-jariku memencet tombol &lt;em&gt;keypad&lt;/em&gt;, sungguh…tak kusangka, berarti selama ini informasi yang kudapat dari teman-teman benar. Dia sedang mengejar cita-citanya disana, syukurlah! Tapi, aku masih penasaran, apa ini benar? Nomor siapa ini?&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hari itu ku langsung mengecek nomor itu. Kuambil &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt;ku yang satunya lagi, setelah ku cek, ternyata nomor yang membuatku kaget itu adalah teman lamaku, yah…dialah salah satu orang yang tau langsung hubunganku dengan FQ (&lt;em&gt;sengaja kusingkat namanya&lt;/em&gt;) tujuh tahun silam. Saat itu juga langsung ku telepon. “Beneran FQ kuliah disana?” tanyaku &lt;em&gt;to the point&lt;/em&gt;. Setelah beberapa lama berbincang-bincang dan sempat teriak-teriak histeris karena memang selama ini kucari-cari keberadaannya akhirnya ketemu juga (&lt;em&gt;hehehe…&lt;/em&gt;), sebelum perbincangan singkat tadi ditutup, “Dia udah tiga tahun disana, katanya sih dua tahun lagi lulus,” ucapnya singkat.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kejadian yang baru kuceritakan tadi, seakan membuka &lt;em&gt;diary&lt;/em&gt; usang yang sudah lama kututup. Tapi, memang selama ini dialah yang terindah dan teristimewa. Entah sudah berapa lama dan berapa kali kucoba mengganti posisinya di hatiku, namun semuanya gagal. Semua yang kulewati hanyalah keisengan sesaat.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sempat kubertanya, apa mungkin dia akan menjemputku setelah semuanya selesai? Apakah dia akan menyempurnakan kalimat-kalimat yang pernah dia ucapkan dulu? Ah…itu kan dulu, kenapa masih diingat?&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Mungkin dia akan menemukan segala yang terindah dan terbaik disana, bukan aku. Siapa aku???&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tapi setidaknya, terimakasih untuk segalanya, kau begitu menghormatiku dengan cintamu. Ku suka caramu mencintaiku. Satu yang selalu kuharap, semoga kita sama-sama mendapat apa yang terbaik buat kita. Ku terus berusaha untuk mengubur dalam-dalam semuanya, walaupun itu sulit. Akan kujadikan kenangan terindah dalam hidupku karena sekarang ku mencoba meraih angan, cita, dan cinta yang baru dalam hidupku.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;Me,&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;-sangdewi-&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-570292048648380590?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/570292048648380590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=570292048648380590' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/570292048648380590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/570292048648380590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2008/10/universitas-al-azhar-kairo-mesir.html' title='Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir???'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-1298539962916922338</id><published>2008-07-15T00:51:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T00:59:03.979-07:00</updated><title type='text'>Ketika Cinta Bertasbih, Novel Penggugah Jiwa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;color:#006600;"&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Subhanallah...&lt;/span&gt;mungkin satu kata itu bisa sedikit menggambarkan betapa saya mengagumi karya-karya Habiburrahman El Shirazy. Dari mulai Ayat-Ayat Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Dalam Mihrab cinta, dan sekarang lagi memboomingnya Ketika Cinta Bertabih, karena novel tersebut saat ini sedang dalam proses menuju layar lebar, dan tak ketinggalan casting untuk memperoleh 5 peran utama yaitu Azzam, Furqon, Anna, Eliana, dan Husna dalam film tersebut pun digelar diberbagai kota, salah satunya Jakarta. Saking antusiasnya saya terhadap karya-karya kang abik (panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy, red), saya pun tak ketinggalan mengikuti audisi tersebut yang digelar di GOR Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (12/7). (&lt;em&gt;iseng-iseng bersertifikat hehehe…).&lt;/em&gt; Sayangnya, keberuntungan sedang tidak memihak kepada saya. Alhasil, saya pun tidak lolos dalam audisi tersebut. Tapi, itu semua tidak mengurangi kekaguman saya terhadap karya-karya beliau. Jujur, tidak ada sedikit pun rasa kecewa dalam diri saya ketika saya tidak lolos pada audisi tersebut (karena kembali pada niat awal, sekadar iseng-iseng hehehe…). Namun, jika kesempatan itu datang kepada saya, alangkah bahagianya. Saya, sebagai pengagum karya-karyanya bisa langsung mengapresiasikan diri saya dalam film yang akan dibuat, apalagi lokasi film tersebut bisa sampai Cairo, Mesir negara yang sangat saya impikan. Namun kembali lagi semua sudah ada yang mengatur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;color:#006600;"&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, ketika saya membaca novel Ketika Cinta Bertasbih, timbul dalam diri saya untuk terus memperbaiki diri, novel yang sangat dahsyat untuk membangkitkan semangat para kaum muslim muda yang ingin terus memperbaiki diri dan memahami arti Islam sesungguhnya.&lt;br /&gt;Isi novel tersebut, mengingatkan saya ketika 5 tahun silam saya masih berada di pesantren, tepatnya Buntet Pesantren Cirebon selama 3 tahun. Suasana yang tergambar dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 2 sangat ingin saya rasakan kembali, saat-saat seperti itu membuat saya menjadi seorang muslim yang sesungguhnya. Disiplin, teratur, hidup bermakna, amar ma’ruf nahi munkar (insyaAllah), terasa dekat dengan Allah, kekeluargaan yang islami membuat saya menitikkan air mata ketika saya membacanya. Sulit sekali rasanya, saya mencari suasana seperti itu kembali di tengah ibukota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, saat membaca novel tersebut, banyak sekali pengalaman, kejadian,, kisah hidup, kitab-kitab, pengajian-pengajian, cara berinteraksi, ataupun istilah-istilah pesantren yang tidak asing di telinga saya. Seperti, selalu digubrak-gubrak saat subuh tiba, bangun diwaktu malam ketika semua orang terlelap tidur (Qiyamul Lail), Nadhom Imrithi, Fathul Qorib, Fathul Wahab, Tafsir Jalalain, Al Hikam, Nahwu, Shorof, dan masih banyak lagi. Sungguh! Kata-kata itu membuat saya kini merasa sangat jauh dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, &lt;span style="color:#000099;"&gt;subhanallah....&lt;/span&gt;Sungguh indah Islam itu! cinta yang digambarkan dalam islam juga sangat membuka hati saya untuk meyakini bahwa betapa pun kita mencari sosok yang sempurna, manusia tak ada yang sempurna! Betapa pun kita mengingkari bahwa orang tersebut bukan jodoh kita, namun orang tersebut pasti akan datang ke kita juga, dan perjuangan tanpa doa adalah sia-sia. Seperti motto hidup saya “Man Jadda wa jada,” siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan berhasil (insyaAllah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, tidak ada ruginya kita membaca karya-karya kang abik, bahkan justru rugilah orang-orang yang belum membaca novel-novel karya sang sastrawan, dai, novelis muda kita, kang abik, karena di dalamnya sangat memotivasi kita untuk menjadi orang yang berguna, baik buat diri maupun orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata yang paling indah selain doa. Untuk itu, saya hanya bisa mendoakan kang abik, semoga senantiasa sukses berjuang berdakwah di jalan Allah dengan karya-karyanya! karena tidak semua orang diberi kelebihan sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-1298539962916922338?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/1298539962916922338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=1298539962916922338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/1298539962916922338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/1298539962916922338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2008/07/ketika-cinta-bertasbih-novel-penggugah.html' title='Ketika Cinta Bertasbih, Novel Penggugah Jiwa'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-6002049021600117668</id><published>2008-07-05T03:44:00.000-07:00</published><updated>2008-07-05T03:47:23.889-07:00</updated><title type='text'>WAJIB DIBACA!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Jurnalistik IISIP “Tebel Muka”&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berniat menghadiri seminar, ‘malahan’ dapat omongan yang kurang mengenakkan. ’JURNALISTIK’ setidaknya nama itulah yang membawa nama IISIP Tercinta menjadi salah satu &lt;i&gt;icon&lt;/i&gt; institut yang berlatar belakang jurnalistik karena dulunya bernama Sekolah Tinggi Publisistik (STP). Tak heran, citra dalam sebuah instansi sangat berpengaruh terhadap kualitas orang-orang di dalamnya, termasuk mahasiswa IISIP nya sendiri, khususnya mahasiswa jurnalistik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam sebuah kesempatan, tepatnya Kamis, 22 Mei 2008, bertempat di Balai Sidang Djoko Soetono, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia. Saya menghadiri Seminar Nasional mengenai Kebebasan Pers dan 10 Tahun Reformasi, alasan saya tertarik mengikuti seminar tersebut simpel, karena ada kata ”pers” dalam tema tersebut. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tidak hanya itu, pembicaranya pun sangat kompeten di bidangnya, diantaranya : Leo Batubara (Wakil Ketua Dewan Pers), Wikrama Irvans Abidin (Anggota Dewan Pers), dengan moderator Pangeran Ahmad Nurdin (Reporter SINDO). Satu hal yang selalu dicari mahasiswa (&lt;i&gt;gratisan&lt;/i&gt; hehehe...).&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam hal ini, saya tidak akan membahas isi atau inti dari seminar tersebut karena mungkin kalian sebagai mahasiswa jurnalistik tahu betul mengenai kebebasan pers dan Undang-Undang yang mengaturnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Disini saya akan menjelaskan pernyataan yang dilontarkan salah satu dosen UI yang juga sebagai pembicara di seminar tersebut yang belum saya sebutkan tadi. Namanya Ade Armando. Dia adalah dosen komunikasi di UI (&lt;i&gt;kalo ga salah&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dimulai dari sesi pertanyaan, peserta diberi kesempatan oleh moderator untuk bertanya kepada semua pembicara yang ada di depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertanya langsung. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Namun pada kesempatan pertama, saya lewat (artinya saya belum dapat kesempatan untuk bertanya). Setelah semua pertanyaan dijawab, sesi pertanyaan kembali dibuka. Lagi, saya tak mau kalah dengan peserta yang lain. Namun, lagi-lagi acungan tangan saya dilewatkan begitu saja, padahal jarak tempat duduk saya dekat dari moderator, diurutan kedua kursi paling depan. Begitu seterusnya sampai sesi pertanyaan terakhir. Saat itu, perasaan geram, saya tunjukkan kepada dua teman saya yang ikut dalam seminar tersebut. Namun, mereka berusaha memberi pengertian. Saya pun diam. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; yang &lt;i&gt;nanya&lt;/i&gt;, semuanya anak UI?&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Waktu menunjukkan pukul 17.00, saatnya semua pembicara memberi kesimpulan mengenai isi seminar dari yang mereka sampaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tiba saat Ade Armando (Dosen UI) memberi kesimpulan sebelum acara ditutup. Dalam ucapannya begini (maaf &lt;i&gt;kalo&lt;/i&gt; &lt;i&gt;ga&lt;/i&gt; mirip) : “Kebanyakan anak komunikasi (jurnalistik, red) itu manis-manis, dalam arti mereka itu mahasiswa yang tidak biasa di lapangan (bukan orang lapangan, red) alasannya &lt;i&gt;males&lt;/i&gt; nunggu nara sumber, panas, dan sebagainya, tapi mereka &lt;i&gt;nulisnya&lt;/i&gt; bagus-bagus, kualitasnya ada. Tapi banyak juga mahasiswa yang benar-benar kuat di lapangan (orang lapangan, red), mereka rela &lt;i&gt;nunggu&lt;/i&gt; nara sumber &lt;i&gt;sampe&lt;/i&gt; berjam-jam, dan panas-panasan. Kemudian sambil menebak-nebak, gaya bicaranya begini : apa itu nama kampusnya, yang di Lenteng Agung itu &lt;i&gt;lho&lt;/i&gt;, kampus jurnalistik, oh iya IISIP, IISIP Jakarta. Itu jurnalistiknya &lt;b&gt;‘Tebel Muka’&lt;/b&gt;, jago di lapangan tapi nulisnya &lt;i&gt;ga &lt;/i&gt;bagus, kualitasnya kurang”. Setidaknya itulah yang dikatakan dia saat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mendengar kata “Tebel Muka” serentak saya bersama dua teman saya kaget “&lt;i&gt;Sialan!&lt;/i&gt;” (&lt;i&gt;pantes ga&lt;/i&gt; seorang dosen menjelek-jelekkan kampus lain di ruang seminar secara &lt;i&gt;blak-blakan&lt;/i&gt;?).&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sayang sekali saat itu waktu menunjukkan pukul 17.15, dan seminar pun akan ditutup, ditambah sholat Ashar belum dilaksanakan. Seandainya ada sedikit peluang waktu itu untuk saya bisa komplain, pasti akan saya lakukan!.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Perlu diingat bagi siapa saja yang menganggap &lt;b&gt;remeh&lt;/b&gt; kampus Tercinta IISIP. Jangan gampang menganggap remeh orang atau apapun! Karena setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jangan pukul rata semuanya!.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak semua mahasiswa UI berkualitas kan? Sama hal nya tidak semua mahasiswa IISIP tidak berkualitas kan? SETUJU????&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pesan buat Ade Armando&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; : maaf, tidak bisa ngomong langsung. Tidak harus meremehkan kualitas almamater kampus lain untuk membanggakan kualitas kampus sendiri. &lt;i&gt;Bener&lt;/i&gt; &lt;i&gt;ga&lt;/i&gt;? &lt;b&gt;PEACE PAK!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lihat Andy F. Noya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; (mantan Pemimpin Redaksi Metro TV), beliau adalah salah satu &lt;i&gt;jebolan&lt;/i&gt; IISIP yang patut kita acungkan jempol. &lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Makasih Bang Andy, sudah membawa nama baik IISIP Jakarta. Sukses terus!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Terimakasih sudah mau baca tulisan saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;--Dewie, Jurnalistik IISIP Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; color: rgb(255, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-6002049021600117668?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/6002049021600117668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=6002049021600117668' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/6002049021600117668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/6002049021600117668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2008/07/wajib-dibaca.html' title='WAJIB DIBACA!'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-9037757720814196120</id><published>2008-05-13T06:34:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T06:42:34.072-07:00</updated><title type='text'>Buka Mata, Penyandang Cacat Juga Butuh Pendidikan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);" align="center"&gt;&lt;b&gt;Buka Mata, Penyandang Cacat Juga Butuh Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;b&gt;Jakarta, 15 Februari 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Saatnya kita membuka mata untuk lebih menganggap penting bahwa pendidikan wajib bagi siapa saja yang mau belajar, tidak terkecuali para penyandang cacat, mereka juga butuh pendidikan”. Demikian diungkapkan Santo, Penanggung Jawab Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 01 Lenteng Agung, Jakarta Selatan, saat diwawancarai , Kamis (14/2).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut Santo, tidak sempurnanya fisik bukan suatu kendala seseorang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sekolah ini adalah salah satu wadah untuk membantu penyandang cacat untuk bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar. Proses belajar mengajar yang diterapkan di sekolah ini, sama seperti sekolah pada umumnya, yaitu Senin – Sabtu pukul 07.30 – 12.15 WIB, istirahat pukul 09.30 WIB, namun yang membedakan adalah kurikulum yang dibuat. Cara belajar mengajar pada sekolah ini menggunakan kurikulun tersendiri yaitu dengan mengambil mata pelajaran lebih rendah dari sekolah umum, misalnya untuk kelas SMPLB diambil mata pelajaran dari kelas siswa Sekolah Dasar di sekolah umum. Demikian penjelasan Santo.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;SLB 01 Lenteng Agung merupakan SLB pertama di DKI Jakarta yang didirikan pemerintah Indonesia pada tahun 1983 yang dulunya bernama Sekolah Uji Coba, yang dirintis oleh Bakri dan Trini, dan dikepalai oleh M.Wachid Al-Wakhidan, S.Pd. Sekolah yang terdiri dari Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB), dan Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) memiliki 11 tenaga pengajar dan 52 siswa pada SMPLB dan SMALB, terdiri dari 32 laki-laki dan 20 perempuan. Masing-masing siswa dibedakan menjadi 4 kelas, yaitu kelas A bagi penyandang Tuna Netra, kelas B bagi penyandang Tuna Rungu/Wicara, kelas C bagi penyandang Tuna Grahita (keterlambatan berpikir), kelas C dibagi 2, yaitu C (Grahita ringan), dan C1 (Grahita berat) dan kelas D bagi penyandang Tuna Daksa (kelainan motorik anggota tubuh/tubuh yang tidak sempurna), serta ada beberapa anak autis namun kelasnya digabung dengan anak yang lain. Hal tersebut dijelaskan Irfan (34) salah seorang pengajar Tuna Rungu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Irfan menambahkan, sekolah ini terdapat 11 ruangan, tidak termasuk ruang guru dan kepala sekolah, 9 ruangan untuk kelas belajar mengajar, 2 kelas lainnya untuk ruang keterampilan siswa. Biaya yang dikeluarkan cukup dengan Rp.150.000/bulan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk bisa masuk sekolah ini, perlu ada beberapa tes, diantaranya tes intelektual atau IQ, jika IQ lebih rendah atau jauh di bawah rata-rata orang normal, baru bisa dikatakan ada kelainan, dan hal tersebut sudah dapat memenuhi persyaratan. Jelas Irfan.&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Menurut Irfan, tujuan mengajar di SLB ini tentunya karena tantangannya lebih berat, tidak semua orang bisa menjadi pengajar di SLB. Hal itu yang membedakan pengajar di sekolah umum dengan pengajar di SLB. “Itulah yang membuat saya tertarik dan ada rasa iba,” tuturnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam menjalankan tugasnya, Irfan juga kadang mengalami kesulitan dalam menghadapi perbedaan kemampuan siswanya, apalagi siswa Tuna Rungu karena kita harus bisa mengekspresikan isi perkataan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita lewat gerak tubuh, jelasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat ini, SLB lebih banyak dihuni oleh siswa Tuna Grahita dari pada Tuna Netra, karena setiap tahunnya penyandang buta terus berkurang. Demikian penuturan Irfan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut salah satu siswa Tuna Rungu Yuli (17), kelas 2 SMPLB mengatakan dirinya senang mengikuti kegiatan belajar di SLB ini, selain banyak teman, Yuli juga bisa belajar keterampilan dengan menjahit dan membuat bunga dari sedotan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Senada dengan Yuli, Neneng (20), salah satu siswa tuna Grahita kelas 3 SMALB menyatakan seorang penyandang cacat juga bisa berprestasi seperti orang normal. Dengan keterampilan yang dimiliki dan terus belajar seseorang bisa menjadi lebih baik.Neneng adalah salah satu siswa yang berprestasi karena pernah mendapatkan juara 1 lomba bola voli dan mendapat ranking pertama di kelasnya. “Saya senang bisa sekolah disini, selain gurunya baik dan perhatian, saya bisa dapat banyak keterampilan seperti menjahit dan tata boga,” tuturnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sedangkan Redi (16) siswa Tuna Grahita kelas 1 SMALB juga berpandangan yang sama dengan murid-murid lainnya. Banyak teman dan bisa belajar bersama dengan orang yang mempunyai kekurangan yang sama bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Berbeda dengan komentar Yuli dan Neneng, Redi lebih memilih untuk hanya membantu orang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tuanya setelah lulus sekolah, baginya orang tualah yang paling baik dimatanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Salah satu orang tua siswa Tuna Grahita Asnur (58) berharap pemerintah bisa memberikan pendidikan yang layak bagi para penyandang cacat seperti halnya siswa normal lainnya. Asnur juga berharap agar anaknya bisa mandiri terlebih untuk dirinya dan tidak tergantung pada orang lain. Tujuannya menyekolahkan anaknya walaupun mempunyai kekurangan adalah untuk martabat secara akademik agar tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat. “Saya tidak merasa minder punya anak seperti ini, saya hanya berharap anak saya bisa mandiri untuk dirinya sendiri,” jelasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sama halnya dengan Asnur, Cimelia (45) orang tua siswa Tuna Grahita lainnya menyatakan tidak ada salahnya seorang penyandang cacat belajar seperti layaknya orang normal. Supaya anak bisa lebih berkembang dan bergaul dengan orang lain. “Saya merasa senang bisa menyekolahkan anak saya disini, saya tidak merasa minder, saya hanya berharap anak saya pintar, mandiri, dan bisa bersikap seperti anak nomal lainnya,” tegasnya. &lt;b&gt;(wie)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-9037757720814196120?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/9037757720814196120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=9037757720814196120' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/9037757720814196120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/9037757720814196120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2008/05/buka-mata-penyandang-cacat-juga-butuh.html' title='Buka Mata, Penyandang Cacat Juga Butuh Pendidikan'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3039331571075969911.post-6951597073132199909</id><published>2008-03-19T03:56:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T06:04:48.463-07:00</updated><title type='text'>Sang Penyejuk Jiwa</title><content type='html'>&lt;div style="color: rgb(102, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Apa arti hidup sesungguhnya ketika semangat itu hilang, ketika semuanya terasa tak berarti!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Kuserahkan semuanya kepadanya, sang penyejuk jiwa!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Menyejukkan hati, saat jiwa ini gersang!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Sang maha penenang, ketika jiwa ini gelisah!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Namun jika jiwa ini tersentuh oleh perasaan kepada makhluk yang engkau ciptakan, tak lain adalah sang Adam, apa yang harus aku perbuat!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Ku tak tahu tentang ini!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;Yang ku tahu, ini sangat menyiksa!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3039331571075969911-6951597073132199909?l=dewirachmatkusuma.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/feeds/6951597073132199909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3039331571075969911&amp;postID=6951597073132199909' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/6951597073132199909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3039331571075969911/posts/default/6951597073132199909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dewirachmatkusuma.blogspot.com/2008/03/sang-penyejuk-jiwa.html' title='Sang Penyejuk Jiwa'/><author><name>-sangdewi-</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11666631349536344678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_VwPE2G6sSCE/S3-ux5GXhcI/AAAAAAAAAGA/7NuuvxL-dNo/S220/05072009181.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
